SKK Migas Penyerapan Minyak Domestik Demi Tekan CAD

    Suci Sedya Utami - 16 Januari 2020 10:23 WIB
    SKK Migas Penyerapan Minyak Domestik Demi Tekan CAD
    Ilustrasi. Foto: AFP.
    Jakarta: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mendukung kebijakan pemerintah yang ingin mendorong PT Pertamina (Persero) untuk lebih agresif dalam menyerap produksi minyak mentah (crude) domestik.

    Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan penyerapan minyak mentah milik kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) merupakan upaya untuk mengurangi defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan (current account deficit/CAD) karena akan menekan impor.

    "Itu dalam rangka upaya kita bagaimana mengatasi neraca perdagangan," kata Dwi di kantor SKK Migas, Jakarta Selatan, Rabu, 15 Januari 2020.

    Ia bilang dengan mengurangi impor minyak mentah artinya Pertamina akan lebih banyak menyerap minyak dalam negeri. Hal tersebut pun akan sangat tergantung oleh negosiasi antara Pertamina dan KKKS.

    Oleh karenanya, kata Dwi, produksi di dalam negeri harus dioptimalkan. SKK Migas pun telah menargetkan untuk meningkatkan produksi minyak menjadi satu juta barel per hari(bph) di 2030. Mengingat saat ini terjadi penurunan produksi. Dari target produksi siap jual (lifting) di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 775 ribu bph, realisasi hanya 746 ribu bph.

    Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas jatah impor minyak mentah Pertamina di 2020. Di sisi lain Pertamina diminta lebih agresif untuk menyerap crude dalam negeri.

    Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan pihaknya mengurangi jatah impor Pertamina sebanyak delapan ribu barel per hari (bph) atau sekitar 30 juta barel untuk 2020. Biasanya, Pertamina meminta jatah impor 80 juta barel setahun.

    "Sekitar 80 ribu bph belum berhasil kita beli. (Makanya) impor crude-nya Pertamina saya kurangi 8.000 bph per hari selama 2020," kata Djoko.

    Oleh karenanya Djoko ingin agar Pertamina bisa segera mencapai kata sepakat dalam melakukan negosiasi dengan KKKS untuk pembelian crude dalam negeri.

    Sementara itu Pertamina menyatakan selama 2019, pembelian minyak mentah dari luar negeri (impor) sekitar 212 ribu barel per hari atau sekitar 23 persen dari total kebutuhan (intake) kilang. Jumlah ini mengalami penurunan signifikan lebih dari 30 persen dibanding 2018.

    Untuk 2020, Pertamina tetap mengoptimalkan penyerapan minyak mentah domestik. Saat ini, Pertamina telah melakukan negosiasi dan bahkan sudah mencapai kesepakatan sekitar 74 persen dari KKKS yang memberikan penawaran.

    Vice President Corporate Communications Pertamina Fajriyah Usman mengatakan pada 2019, total penyerapan crude dalam negeri dari tiga sumber tersebut di atas mencapai lebih dari 90 persen dari total produksi minyak mentah di Indonesia. Dari serapan tersebut yang merupakan bagian minyak mentah yang berhasil diserap dari 43 KKKS mencapai lebih dari 147 juta barel (unaudited). Ia bilang jumlah tersebut melonjak lebih dari seribu persen dari total serapan dari KKKS di 2018 yang sebesar 10,1 juta barel.

    "Di 2020 bisa bertambah penyerapan dari 43 KKKS di tahun lalu. Kan bisa saja misalnya produksi tahun depan pada tinggi-tinggu, jadi kesepakatan kita per KKKS juga lebih tinggi," jelas Fajriyah.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id