Pos Indonesia Tidak akan Punah

    Desi Angriani - 08 Februari 2019 13:20 WIB
    Pos Indonesia Tidak akan Punah
    Direktur Keuangan dan Umum PT Pos Indonesia Eddi Santosa. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
    Jakarta: Pasang surut mewarnai perjalanan panjang dua setengah abad PT Pos Indonesia (Persero). Masa-masa gemilang industri perposan terjadi saat media komunikasi jarak jauh masih menggunakan surat.

    Namun pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, perubahan gaya hidup, serta tren liberalisasi membuat bisnis jasa pos mengalami pergeseran yang sangat signifikan.

    Direktur Keuangan dan Umum PT Pos Indonesia Eddi Santosa mengatakan perubahan tersebut tidak akan membuat BUMN yang bergerak di bidang jasa kurir, logistik, dan transaksi keuangan ini mati atau punah. Sebab, belum ada perusahan pos di dunia yang tutup meski dihantam badai finansial sekalipun.

    "Maka dalam sejarahnya hampir tidak ada ceritanya perusahaan pos ditutup, seberapa pun beratnya situasi finansial mereka, enggak ada perusahaan ditutup," tegas Eddi saat ditemui Medcom.id di Kantor Regional IV PT Pos Indonesia, Jalan Gedung Kesenian, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat, 8 Februari 2019.

    Bahkan perusahaan pos asal Amerika Serikat dengan pendapatan Rp1.000 triliun masih mengalami defisit sebesar Rp100 triliun. Hal tersebut juga dialami oleh 190 perusahaan pos di dunia.

    Sedikitnya hanya 40 persen dari total jumlah perusahaan pos dunia yang masih mencatatkan laba. Namun demikian, Eddi menjelaskan pendapatan tidak akan pernah menjamin perolehan laba karena banyak kewajiban perseroan yang harus dipenuhi.

    "Kebanyakan juga naik turun, tahun ini laba berikutnya rugi selanjutnya bisa laba lagi dan seterusnya.Kompetisi, persaingan tekanan teknologi, menyenangkan customer e-commerce dan seterusnya," ungkap dia.

    Di samping itu, perusahaan pos dipastikan tidak menemui senjakala karena ada kewajiban suatu negara untuk memiliki postal di negaranya. Postal tersebut merupakan institusi yang diatur melalui universal postal union (UPU) meliputi 162 negara dan berbasis di Geneva.

    "Keberadaan postal itu mandatory. Wajib memiliki perusahaan pos yang bertugas menyelenggarakan sistem pos di negara masing-masing. Itu sebabnya pos engga bisa punya cabang di luar negeri. Kalau pun dikonversi engga pernah menghilangkan fungsi kantor posnya," pungkas dia.

    Pos Indonesia masih tetap sebagai salah satu perusahaan jasa dengan jaringan distribusi yang terbesar di Indonesia. Jumlah kantor pos lebih dari 4.000 kantor yang tersebar di 24 ribu titik layanan dan telah mencakup 100 persen kota dan kabupaten di Indonesia serta telah menjangkau hampir seluruh kecamatan di Tanah Air.

    Pos Indonesia juga didukung oleh armada layanan bergerak sebanyak 418 unit, 10.523 unit kendaraan truk dan mobil dinas, 19.502 karyawan, 3.729 unit kantor pos online, serta 24.674 unit point of sales.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id