Smelter Nikel Senilai USD1 Miliar Beroperasi di Konawe

    Ilham wibowo - 25 Februari 2019 21:57 WIB
    <i>Smelter</i> Nikel Senilai USD1 Miliar Beroperasi di Konawe
    Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto, Medcom/Ilham WIbowo.
    Jakarta: Industri pengolahan dan pemurnian (smelter) berbasis nikel resmi beroperasi di Konawe, Sulawesi Tenggara. Nilai investasi sumber daya alam yang dikelola PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) ini mencapai USD1 miliar.

    Peresmian disaksikan langsung Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Industri smelter dinilai berperan penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional lantaran sejalan terhadap program peningkatan nilai tambah sumber daya alam.

    "Pemerintah berkomitmen melaksanakan kebijakan hilirisasi industri, karena mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal dan penerimaan devisa dari ekspor," kata Airlangga melalui keterangan resmi, Senin, 25 Februari 2019.

    Airlangga mengapresiasi PT VDNI yang telah merealisasikan investasinya sebesar USD1 miliar untuk membangun 15 tungku Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF). Total kapasitas produksi bisa mencapai 800 ribu metrik ton per tahun untuk menghasilkan Nickel Pig Iron (NPI) yang memiliki kadar nikel 10-12 persen.

    “Kami menyambut baik proyek ini, apalagi akan dilanjutkan menjadi industri yang terintegrasi dan menghasilkan stainless steel berkelas dunia,” ujarnya.

    PT VDNI tercatat telah memberikan kontribusi cukup signfikan terhadap pertumbuhan nilai ekspor nasional. Perusahaan menghasilkan USD142,2 juta hingga akhir 2018 dari pengapalan produk NPI.

    “Selain itu, proyek ini telah menyerap tenaga kerja sebanyak 6 ribu orang yang sebagian besar merupakan warga asli Sulawesi Tenggara. Tenaga kerja tidak langsung juga terserap sebanyak 10 ribu orang yang merupakan bagian dari multiplier effect,” paparnya.

    Airlangga pun berharap aktivitas industrialisasi ini mendapat dukungan harmonis dari masyarakat. Pemerintah daerah dan stakeholder terkait juga diminta ikut berkontribusi.

    “Dengan kerja sama yang baik, keberadaan industri ini bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar,” ujar Airlangga.

    Fasilitas smelter dengan luas area 700 hektare tersebut menjadi salah satu fasilitas pemurnian bijih nikel terbesar di Indonesia. PT VDNI termasuk anak perusahaan Jiangsu Delong Nickel Industry Co, Ltd, produsen feronikel terkemuka.

    Saat ini, perusahaan afiliasi PT VDNI sedang membangun pabrik smelter nikel dengan kapasitas produksi NPI sebanyak 1,2 juta ton per tahun dan pabrik untuk memproduksi stainless steel dengan kapasitas sebanyak tiga juta ton per tahun. Total nilai investasi ini diperkirakan mencapai USD2 miliar.

    Pertumbuhan investasi ini sejalan dengan target pemerintah. Peningkatan kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas di luar Jawa diproyeksikan sebesar 60 persen dibanding di Jawa.

    “Pembangunan pabrik di luar Pulau Jawa ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang menginginkan pemerataan industri dan ekonomi sehingga terwujudnya Indonesia sentris,” tegasnya.

    Presiden Direktur PT VDNI Zhu Min Dong menyampaikan pihaknya bertekad untuk menjadi industri smelter terbesar di Indonesia. Perusahaan juga menuju kualitas dan kapasitas produksi kelas dunia di masa mendatang.

    “Fasilitas ini memiliki potensi besar untuk memberikan dampak positif terhadap pembangunan dan kemajuan Sulawesi Tenggara pada khususnya serta umumnya bagi kemajuan Indonesia,” tuturnya.

    Dia menambahkan sumber daya manusia merupakan aset yang sangat penting dalam menunjang kinerja perusahaan. PT VDNI pun terus melakukan peningkatan keterampilan dalam bidang smelter nikel.

    “Salah satunya adalah dengan memberangkatkan putra-putri daerah terbaik untuk belajar di Tiongkok pada 2018 lalu,” imbuhnya.

    Kehadiran fasilitas smelter PT VDNI dapat memberi efek berantai yang luas dalam berbagai aktivitas industrialisasi di banyak bidang. Penggunaan tenaga kerja kontraktor yang menjadi rekanan bagi PT VDNI juga bisa terlibat seperti misalnya jasa logistik, penggunaan kapal tongkang, tenaga kerja konstruksi dan bongkar muat, serta pekerja pertambangan.

    Zhu Min Dong juga mengemukakan, dengan adanya fasilitas dermaga yang memiliki kapasitas hingga 2,5 juta DWT per tahun, dapat menunjang mobilitas dan mempermudah proses logistik serta pengapalan mineral hasil olahan pabriknya.

    “Pada September 2017 lalu, untuk pertama kalinya PT VDNI telah melakukan kegiatan ekspor NPI sebanyak 7.733 metrik ton dengan tujuan ke Tiongkok,” ungkapnya.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id