Selangkah Lagi RCEP Selesai

    Ilham wibowo - 15 Oktober 2019 20:23 WIB
    Selangkah Lagi RCEP Selesai
    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.
    Jakarta: Para Menteri Ekonomi dari 16 negara peserta Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) kembali bertemu pada
    pertemuan intersesi ke-9 di Bangkok, Thailand. Perundingan yang telah dibahas selama tujuh tahun itu selangkah lagi bakal rampung.

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan pertemuan ini sangat penting untuk memastikan penyelesaian perundingan RCEP. Hasil kesepakatan rencananya  diumumkan Kepala Negara/Pemerintahan Negara Peserta RCEP pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) RCEP ke-3 pada 4 November 2019 di Bangkok, Thailand.

    "Pertemuan ini merupakan pertemuan terakhir tingkat menteri untuk memutuskan penyelesaian isu-isu single outlier. Harus dituntaskan agar tim perunding dapat menyelesaikan perundingan dalam sisa waktu yang ada hingga diumumkan pada 4 November 2019," ujar Mendag melalui keterangan resminya, Selasa, 15 Oktober 2019.

    Menurut Mendag, para Menteri menyambut baik kemajuan signifikan yang dicapai pada putaran perundingan ke-28 pada 19-27 September 2019 di Da Nang, Vietnam. Saat itu sempat ada kekhawatiran mengenai target penyelesaian mengingat waktu yang tersisa hanya sekitar dua minggu. Kekhawatiran terutama juga muncul karena meski sudah dirundingkan selama lebih dari tujuh tahun, masih terdapat satu negara yang belum menyetujui draf teks perjanjian (single outlier) dari total 16 negara peserta RCEP.

    Mendag Enggar menjelaskan sebelum masuk pertemuan khusus ASEAN (caucus), terlebih dahulu dilakukan TROIKA plus dengan negara peserta RCEP yang disebut single outlier, yang pertama dengan Malaysia, Jepang dan terakhir India. Setelah itu, pembahasan dilanjutkan dalam format pleno dengan seluruh peserta RCEP yang hanya didampingi masing-masing Ketua Trade Negotiations Committee (TNC)-nya.

    "Setelah melalui pembahasan yang sangat intensif lebih dari tiga jam, kami dapat mencapai suatu paket resolusi bagi seluruh isu tersisa. Pada akhir pertemuan, kami meminta TNC melakukan finalisasi dalam waktu kurang lebih 10 hari ke depan, sehingga kami dapat melaporkan penyelesaiannya kepada para pemimpin di awal November nanti untuk diumumkan," ujar Enggar.

    Pertemuan lebih lanjut sepakat untuk melakuan pertemuan kembali sebelum dilaporkan ke para pemimpin, sebagaimana usulan Enggar, untuk melakukan finalisasi akhir perunding, setelah kelompok perunding bekerja menyelesaikannya dalam 10 hari ke depan. Enggar menekankan seluruh menteri berkomitmen mengerahkan upaya maksimal untuk menyelesaikan perundingan.

    Berdasarkan pengalaman, lanjutnya perundingan lebih efektif jika negara single outlier ditemui satu per satu, karena dinilai efektif untuk mengetahui perhatian utama sekaligus mencari langkah solusi yang akan ditempuh. Untuk itu, ASEAN melakukan pertemuan dalam format TROIKA Plus One. Adapun Indonesia berperan sebagai negara koordinator, Thailand sebagai ketua ASEAN, Sekjen ASEAN, serta Singapura sebagai ketua ASEAN tahun lalu yang bertindak sebagai 'plus'.

    Direktur Jenderal Perundingan Perdagagan Internasional Iman Pambagyo, selaku Ketua TNC RCEP, juga menegaskan optimismenya terkait penyelesaian perundingan RCEP pada bulan November ini. Dengan komitmen dan arahan yang konkret dari para Menteri RCEP, ia optimistis dengan kerja keras dan kerja sama semua tim perunding.

    "Kita akan mencapai garis finis dalam dua minggu ke depan. Dari 20 bab teks perjanjian yang dibahas, 14 bab sudah selesai, dan dari delapan annex, sudah ada empat annex yang selesai. Sisa bab teks perjanjian yang belum selesai, pada dasarnya sudah tuntas apabila negara single outlier dapat menerima posisi teks perjanjian saat ini yang telah disepakati 15 negara lainnya," tegas Iman.

    Komitmen dan arahan para Menteri RCEP yang diputuskan pada Sabtu, 12 Oktober 2019 diyakini dapat menjadi pegangan bagi tim perunding untuk menyelesaikan semua isu perundingan single outlier, termasuk isu-isu yang bersifat politis seperti yang sedang dihadapi Jepang dengan Korea Selatan (isu outward processing dari Korsel) dan dengan Tiongkok (isu non-market economy).

    RCEP akan menjadi mega-FTA terbesar di dunia, mengingat tiga negara besar yaitu Tiongkok, India, dan Indonesia tergabung di dalamnya. Arahan dari para Menteri RCEP telah disepakati dan Komite Perunding RCEP di bawah koordinasi Indonesia harus mampu menyelesaikan perundingan sehingga pengumuman konklusi dapat dilakukan pada KTT RCEP.

    Dalam kesempatan lawatannya ke Thailand, Mendag Enggar melakukan pertemuan bilateral dengan Wakil Perdana Menteri yang sekaligus Menteri Perdagangan Thailand Jurin Laksanawisit. Pertemuan membahas penyelesaian isu hambatan ekspor kopi siap minum Indonesia yang dikenakan tariff rate quota (TRQ) oleh Thailand.

    Thailand juga menyampaikan fokus utama terhadap beberapa hambatan perdagangan yang diterapkan Indonesia atas produk ekspornya, khususnya buah longan dan durian. Untuk itu, Mendag mengusulkan agar segera dibentuk kelompok kerja gabungan (joint working group) untuk membahas permasalahan ini dan segera diaktifkan pada Oktober ini.

    Pertemuan bilateral lain yang dilakukan Indonesia yaitu dengan Korea Selatan terkait rencana Joint Announcement Substantial Conclusion of the Negotiations of Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) pada sela-sela TEI 2019 di Jakarta. Sedangkan dengan India dan Selandia Baru untuk membahas RCEP dan isu perdagangan bilateral.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id