Likuiditas Bank Muamalat Perlu Segera Diobati

    Ilham wibowo - 21 November 2019 18:42 WIB
    Likuiditas Bank Muamalat Perlu Segera Diobati
    Suasana diskusi masalah Bank Muamalat. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.
    Jakarta: Permasalahan likuiditas yang mendera PT Bank Muamalat Indonesia Tbk dinilai perlu segera diselesaikan sebelum membesar dan memengaruhi industri keuangan Indonesia.

    Rektor Unika Atmajaya Prasetyantoko mengatakan situasi Bank Muamalat saat ini merupakan masalah yang sejatinya bisa dialami bank syariah lain. Namun demikian, manajemen yang kurang baik membuat kinerja Bank Muamalat memburuk di tengah siklus ekonomi yang sedang turun.

    "Kalau mau ngomong jelek ya tidak beruntung saja, strategi bisnisnya enggak tepat," kata Prasetyantoko dalam sebuah diskusi di Restoran Bunga Rampai, Jakarta Pusat, Kamis, 21 November 2019.

    Menurutnya, diperlukan aksi cepat termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar Bank Muamalat tak kian terjerumus ke dalam jurang krisis sistem keuangan. Sebelum dinyatakan bank gagal, Bank Muamalat Perlu suntikan dana besar sebagai pemulihan rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF).

    "Kalau tidak segera diambil suatu aksi, itu risikonya malah makin tinggi. Perlu suntikan dana, sekarang dananya siapa, OJK saya yakin konsentrasi duitnya itu dari mana dalam penyelamatan ini," ungkapnya.

    Prasetyantoko menuturkan langkah penyelamatan perlu didorong secara tepat. Idealnya, kata dia, Bank Muamalat bisa mendapatkan suntikan dari investor asing yang bisa menyutikan dana tak terbatas.

    "Idealnya penyelamatan ini mestinya melibatkan investor asing, karena saya duga kalau itu investor domestik ada keterbatasan, bank BUMN juga punya problematika mirip karena di siklus yang sama," ujarnya.

    Secara industri dan makro, saat ini kesempatan yang baik untuk menarik investasi ke pasar domestik. Situasi Bank Muamalat diharapkan tidak sampai menghambat situasi industri keuangan di dalam negeri.

    "Meskipun kita berharap ini cepat ada aksi korporasi, saya duga tidak akan secepat itu karena ketersediaan dana di dalam negeri untuk Bank Muamalat, ada waktu yang tidak singkat untuk nanti keluar aksi yang real," tuturnya.

    Sementara itu, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah mengatakan bahwa masalah pada Bank Muamalat masih pada level yang rendah dan bisa segera dibenahi. Penilaian tersebut bila hanya pada laporan resmi kinerja keuangan Bank Muamalat tanpa melihat masalah lainnya.

    "Laporan keuangan yang resmi  persoalan itu yang umum dan sama terjadi juga di bank syariah, bedanya dalam Bank Muamalat ini belum mendapatkan tambahan modal untuk  perbaikan," ujarnya.

    Selain kehadiran investor baru, Bank Muamalat juga mesti memperbaiki kualitas aset dengan menyelesaikan kinerja non-performing loan (NPL). Praktek umum penyelesaian likuiditas bank ini pun masih bisa diupayakan dan kinerja perusahaan dipacu kembali oleh nakhoda dan kru baru.

    "Setelah ada tambahan modal, setelah aset diperbaiki, dibersihkan aset yang tidak berkualitas dan yang buruk kemudian mulai baru dengan strategi baru dan orang-orang yang baru," ungkapnya.

    Pieter optimistis Bank Muamalat punya masa depan yang masih cerah sebagai bank syariah pertama di Tanah Air. Terlebih pemerintah tengah fokus mendorong ekonomi dan keuangan syariah Indonesia jadi yang terdepan di dunia.

    "Saya mengharapkan otoritas OJK segera ambil langkah penyelesaian Bank Muamalat yang menurut saya relatif kecil dibandingkan persoalan-persoalan besar yang lainnya seperti Bumiputera, ini mumpung ini adalah persoalan yang belum membesar, masih skala yang sangat mudah diatasi," tutupnya.

    Muamalat, bank syariah tertua di Indonesia itu sedang berusaha untuk meningkatkan kapasitas permodalan. Bank tersebut baru saja mengumumkan rencana Penawaran Umum Terbatas IV dengan hak memesan efek terlebih dahulu. Dalam keterbukaan informasi di situs resminya, Bank Muamalat berencana menerbitkan 32,96 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp100 per lembar.

    Adapun kinerja keuangan Bank Muamalat anjlok per kuartal II-2019. Rasio kecukupan modalnya (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat menurun hampir empat persen dari periode sama tahun sebelumnya, menjadi 12,01 persen.

    Sementara itu, rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing/NPF) Bank Muamalat naik drastis hingga 4,53 persen. Rasio itu mendekati batas maksimal yang ditetapkan OJK bagi bank kategori sehat, yakni sebesar lima persen.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id