Industri Air Minum Kemasan Untung di Tahun Politik

    Ilham wibowo - 27 Februari 2019 19:29 WIB
    Industri Air Minum Kemasan Untung di Tahun Politik
    Illustrasi. Dok: Medcom id.
    Jakarta: Industri Air Minuman Dalam Kemasan (AMDK) diproyeksi mampu mencapai pertumbuhan positif pada 2019. Gelaran pemilihan umum dinilai meningkat konsumsi produk di pasar dalam negeri.

    "Tentunya dalam acara kumpul-kumpul seperti kegiatan kampanye akan dibutuhkan banyak air minum kemasan," kata Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Abdul Rochim, di Jakarta, Rabu, 27 Februari 2019.

    Menurut Rochim, industri AMDK memiliki pangsa pasar yang cukup besar dari kelompok industri minuman ringan yang mencapai 85 persen. Saat ini, tercatat lebih dari 500 perusahaan sebagai industri AMDK dan 90 persen di antaranya merupakan industri kecil dan menengah (IKM).

    Pertumbuhan industri minuman pada Januari-September 2018 tercatat menembus angka 10,19 persen. Peningkatan konsumsi diperkirakan bakal terjadi tak hanya pada hari besar keagamaan di 2019.

    “Kami optimistis, pertumbuhan sepanjang tahun ini juga bisa double digit. Apalagi, di tahun politik yang biasanya permintaan akan ikut naik,” imbuhnya.

    Potensi bisnis AMDK di Tanah Air dinilai cukup prospektif seiring penambahan modal yang terus mengalir dari beberapa produsen. Misalnya saja, investasi Orang Tua Group dengan merek Crystalline.

    Kemudian, PT Sariguna Primatirta Tbk dengan merek CLEO yang melanjutkan ekspansi membangun tiga pabrik baru, serta salah satu badan usaha milik negara (BUMN) yakni PT Indra Karya (Persero) yang juga ikut dalam pengembangan industri AMDK.

    Produk AMDK dari industri dalam negeri juga sudah mampu kompetitif di pasar internasional. Pada periode Januari-November 2018, ekspor produk air mineral mencapai 101.950 ton dengan nilai valuasi USD16,78 juta.

    Rochim menjelaskan, AMDK merupakan produk yang standar mutu dan keamanan pangannya telah diberlakukan melalui Peraturan Menteri Perindustrian No. 78 Tahun 2016 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Air Mineral, Air Demineral, Air Mineral Alami, dan Air Minum Embun Secara Wajib.

    Penyusunan SNI tersebut dilakukan oleh Komite Teknis yang terdiri dari perwakilan pemerintah, akademisi atau ahli, masyarakat, dan produsen. Penyusunannya juga mengacu pada standar internasional seperti CODEX Alimentarius Committee dan WHO.

    Pengawasan SNI juga dilakukan secara berkala mulai dari air baku, proses produksi, produk akhir sampai dengan pengemasan produk.

    "Produk AMDK yang beredar di pasar telah sesuai dengan standar yang berlaku wajib. Regulasi standar ini berlaku baik untuk produk AMDK yang diproduksi di dalam maupun luar negeri untuk dapat beredar di Indonesia,” paparnya.

    Ketua Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) Rachmat Hidayat meyakini, permintaan AMDK akan tumbuh 10 persen pada 2019 karena adanya agenda pemilu.

    “Kami melihat kondisi di Indonesia juga sangat kondusif. Kalau keadaannya kondusif, tentu akan berdampak positif terhadap konsumsi minuman di dalam negeri,” ujarnya.

    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sebelumnya mengatakan industri makanan dan minuman menjadi salah satu sektor manufaktur andalan dalam memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Capaian kinerjanya selama ini tercatat konsisten terus positif, mulai dari perannya pada peningkatan produktivitas, investasi, ekspor hingga penyerapan tenaga kerja.

    “Oleh karena itu, industri makanan dan minuman perlu melakukan terobosan inovasi produk. Upaya ini guna memenuhi selera konsumen di dalam maupun luar negeri. Apalagi adanya implementasi industri 4.0, dengan pemanfaatan teknologi terkini dinilai dapat menghasilkan produk yang berkualitas dan kompetitif,” tuturnya.

    Sepanjang 2018, industri makanan dan minuman mampu tumbuh 7,91 persen atau melampaui pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5,17 persen. Selain itu, realisiasi investasi menyumbang hingga Rp56,60 triliun dan nilai ekspornya berkontrbusi sebesar USD29,91 miliar.

    “Industri makanan menjadi kontributor terbesar terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur sebanyak 26,67 persen,” ungkap Menperin.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id