RI-Singapura Tingkatkan SDM Industri 4.0 Berbasis Kompetensi

    Ilham wibowo - 06 Februari 2020 11:31 WIB
    RI-Singapura Tingkatkan SDM Industri 4.0 Berbasis Kompetensi
    Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berbincang dengan Presiden Republik Singapura Halimah Yacob pada acara kunjungan kenegaraan ke Kementerian Perindustrian. Foto: dok Kemenperin.
    Jakarta: Indonesia dan Singapura menjalin kolaborasi dalam pelaksanaan pelatihan sumber daya manusia (SDM) yang terkait dengan pengembangan industri 4.0. Langkah strategis ini terealisasi melalui kerja sama antara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian RI dengan Singapore Polytechnic.

    "Ini merupakan salah satu upaya konkret Pemerintah Indonesia untuk semakin meningkatkan kualitas pendidikan dalam rangka menghasilkan tenaga kerja industri yang siap memasuki era industri 4.0," kata Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 6 Februari 2020.

    Dalam kesempatan itu Agus menerima langsung kunjungan Presiden Singapura Halimah Yacob di kantor Kementerian Perindustrian RI, Jakarta. Menurut Agus, Singapura merupakan salah satu mitra penting bagi Indonesia baik sektor ekonomi maupun pendidikan, khususnya yang terkait program vokasi.

    "Ini sejalan dengan salah satu agenda prioritas nasional pada roadmap Making Indonesia 4.0, yaitu pembangunan kompetensi SDM," tuturnya.

    Membangun kekuatan SDM saat ini menjadi salah satu program utama oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini. Pemerintah Indonesia juga sangat menyadari bahwa keberadaan SDM yang mumpuni itu bisa menjawab semua tantangan, termasuk di era industri 4.0.

    "Oleh sebab itu, seluruh SDM industri harus mampu beradaptasi, termasuk dengan perkembangan teknologi," imbuhnya.

    Kehadiran SDM industri yang terampil memiliki peran yang vital terhadap upaya memacu daya saing sektor industri, selain faktor investasi dan teknologi. Inovasi dan penerapan teknologi juga merupakan kunci bagi industri untuk bisa berkompetisi di level nasional dan global.

    "Tentu dengan mengadaptasi teknologi yang sudah ada, yaitu industri 4.0, kami percaya akan terjadi efisiensi dalam proses produksi masing-masing. Hal ini bisa memunculkan daya saing yang kuat, baik itu dalam tingkat domestik maupun internasional. Jadi kuncinya, penguasaan teknologi 4.0 itu dapat membantu industri untuk tumbuh berkembang dan berdaya saing, yang pada gilirannya akan menyerap tenaga kerja secara optimal," paparnya.

    Pada kesempatan tersebut, Presiden Halimah bersama Menperin Agus melihat langsung kegiatan workshop penerapan desain dan pengembangan kurikulum pelatihan industri 4.0 berbasis kompetensi. Lokakarya ini diikuti sebanyak 60 peserta dari politeknik dan akademi komunitas milik Kemenperin RI.

    "Singapura menawarkan kerja sama dengan Kemenperin untuk up skilling, terutama dari SDM industri yang ada di bawah binaan Kemenperin, melalui SMK, politeknik, dan akademi komunitas. Yang paling utama adalah bagaimana institusi pendidikan yang ada di Kemenperin bisa mendesain kurikulum di tempat pendidikan masing-masing yang bisa menjawab tantangan 4.0," papar Agus.

    Agus pun berharap, para peserta tersebut nantinya bisa menjadi master trainer. "Maka itu, saat ini sedang kami bentuk dan latih, termasuk mendesain kurikulum di politeknik atau di sekolah masing-masing, agar bisa menjawab tantangan industri 4.0," ujarnya.

    Agus menambahkan, pada 2018-2019, Kemenperin telah memfasilitasi pelatihan sebanyak 100 guru produktif dari hasil program link and match sekolah vokasi di Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan di ITE Campus Singapore yang didukung oleh Temasek Foundation.

    "Tahun ini, Temasek Foundation kembali mendukung program kolaborasi antara BPSDMI Kemenperin RI dengan Singapore Polytechnic dalam program pelatihan SDM terkait industri 4.0 dengan MoU yang telah ditandatangani kedua pihak," ujarnya.

    Agus pun menyampaikan, pihaknya telah menyiapkan kurikulum industri 4.0 yang akan diterapkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan politeknik di bawah binaan Kemenperin pada tahun ini. Kerja sama baik antara Indonesia dan Singapura ini juga diharapkan semakin berlanjut, dengan meningkatnya jumlah program kerja sama peningkatan SDM industri selanjutnya.

    "Kami juga berterima kasih kepada Presiden Republik Singapura, Pemerintah Singapura, Temasek Foundation dan Singapore Polytechnic untuk dukungan dan kerja sama dalam meningkatkan kualitas SDM industri di era industri 4.0," ucap Agus.

    Sementara itu, Presiden Halimah menyampaikan, pengembangan SDM dan industri 4.0 merupakan prioritas utama bagi Singapura. Baik Singapura maupun Indonesia sangat menyadari bahwa para pekerja perlu dilengkapi dengan skill yang seusai agar bisa beradaptasi dan memanfaatkan peluang dari teknologi yang maju tersebut.

    "Kita memiliki tujuan yang sama, bahwa kita tidak hanya perlu menyiapkan masyarakat terhadap disrupsi teknologi dari Industri 4.0, tetapi juga dapat memperoleh keuntungan bagi masyarakat, industri, dan ekonomi," ucapnya.

    Halimah menambahkan, dirinya senang dapat melihat secara langsung kolaborasi tersebut berjalan baik. Kerja sama ini memberikan peluang bagi kedua negara untuk bertukar pengalaman dalam upaya memacu kompetensi para pekerja di sektor industri.

    "Singapura berkomitmen akan memperkuat kerja sama dengan Indonesia di area-area yang bermanfaat. Saya berharap pelatihan ini sesuai dengan kebutuhan dan memperkaya para peserta, dan bisa diteruskan kepada sesama pengajar lainnya," pungkasnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id