Subsidi Penumpang MRT Naik Jadi Rp900 Miliar

    Desi Angriani - 27 November 2019 21:36 WIB
    Subsidi Penumpang MRT Naik Jadi Rp900 Miliar
    Proyek MRT. Foto : MI/RAMDANI.
    Jakarta: Subsidi bagi penumpang MRT diproyeksi naik dari Rp560 miliar menjadi Rp900 miliar pada 2020-2021. Subsidi tersebut diberikan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

    Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan subsidi tersebut meningkat lantaran MRT akan beroperasi penuh tahun depan. Sementara tahun ini moda transportasi berbasis rel itu hanya beroperasi selama sembilan bulan.

    "Setiap tahun subsidi ada di angka Rp900 miliar. Tahun ini MRT kan efektif beroperasi dari April-Desember," ungkap William di Kantor MRT, Wisma Nusantara, Jakarta, Rabu, 27 November 2019.

    William menjelaskan subsidi yang diberikan Pemprov DKI setara Rp20 ribu per penumpang untuk satu kali perjalanan. Pasalnya, rata-rata harga tiket MRT mencapai Rp10 ribu per penumpang dari harga keekonomian sebesar Rp30 ribu per penumpang.

    "Kita bikin survei dari willingness to pay ada di angka Rp10 ribu dari harga keekonomian Rp30 ribu per penumpang," imbuhnya.

    Lebih lanjut, komponen pendapatan terbesar MRT bersumber dari  pendapatan public service obligation (PSO) atau subsidi Rp560 miliar pada 2019. Komponen berikutnya berasal dari non farebox seperti periklanan, jual hak nama (naming right), jaringan komunikasi dan penyewaan ruang komersial sebesar Rp225 miliar.

    Sementara itu, komponen farebox atau tiket penumpang baru mencapai Rp180 miliar dari rata-rata 90 ribu penumpang per hari. Komponen pendapatan lain bersumber dari kurs dan selisih bunga sebesar Rp40 miliar.

    "Asumsi yang kita buat untuk menjaga keberlanjutan itu dan berharap tiap tahun ada subsidi Rp900 miliar," terang William.

    Namun demikian, ia berharap subsidi penumpang dapat dipangkas dengan jalan mencari pemasukan lain melalui pengembangan kawasan TOD, kenaikan jumlah penumpang maupun penaikan harga tiket. Pemasukan tersebut diprediksi dapat memberikan dividen sebesar Rp200 miliar sehingga subsidi pemprov dapat ditekan menjadi Rp700 miliar.

    "Kalau sibsidi dikurangi ya non farebox harus digenjot sehingga ada komponen yang naik. Kalau subsidi berkurang dia akan mukul ini turun. Semua harus menjaga, subsidi jangan turun dulu di beberapa tahun pertama," tutupnya.

    Berdasarkan data MRT Jakarta, pembangunan konstruksi fase 1 proyek kereta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta dimulai pada 10 Oktober 2013. Ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur DKI Jakarta yang kini menjabat Presiden RI, Joko Widodo.

    Pada koridor 1 dibangun jalur kereta sepanjang 16 kilometer yang meliputi 10 kilometer jalur layang dan enam kilometer jalur bawah tanah.

    Tujuh stasiun layang tersebut adalah Lebak Bulus (lokasi depo), Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Depo akan berada di kawasan Stasiun Lebak Bulus. Sedangkan enam stasiun bawah tanah dimulai dari Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia.

    MRT mengoperasikan 14 kereta dari total 16 kereta. Sebanyak 2 kereta disimpan sebagai cadangan. Perjalanan dari stasiun Bundaran HI menuju stasiun Lebak Bulus memakan waktu 30 menit dengan maksimum kecepatan 100 km/h untuk elevated dan 80 km/h untuk perjalanan bawah tanah.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id