Kemenperin: Industri Pengolahan Kopi Semakin Cerah

    Ilham wibowo - 03 Oktober 2019 14:11 WIB
    Kemenperin: Industri Pengolahan Kopi Semakin Cerah
    Ilustrasi. FOTO: Medcom.id.
    Jakarta: Indonesia diyakini memiliki peluang besar dalam pengembangan industri pengolahan kopi. Selain punya pasar yang besar, juga didukung dengan potensi bahan baku yang melimpah dan berkualitas.

    Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Abdul Rochim mengatakan diperlukan upaya strategis, seperti hilirisasi dalam rangka meningkatkan nilai tambah dan peningkatan kapasitas produksi. Halnini karena Indonesia merupakan negara produsen biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.

    "Dengan produksi rata-rata sekitar 700 ribu ton per tahun atau sekitar sembilan persen dari produksi kopi dunia, biji kopi yang diolah di dalam negeri terus kami pacu," kata Rochim melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 3 Oktober 2019.

    Dengan didorong oleh pertumbuhan kelas menengah dan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia, kinerja industri pengolahan kopi di dalam negeri mengalami peningkatan yang signifikan. Konsumsi kopi kian marak dengan hadirnya beragam inovasi penyajian.

    "Contohnya, kita melihat roastery, cafe, dan warung atau kedai kopi berkembang pesat, baik di kota besar maupun kota kecil," tuturnya.

    Melalui perkembangan tersebut, Indonesia yang awalnya dikenal sebagai produsen kopi perlahan berkembang menjadi negara konsumen kopi. Bahkan, industri pengolahan kopi nasional tidak hanya menjadi pemain utama di pasar domestik tetapi juga telah merambah sebagai pemain global.

    "Ekspor produk kopi olahan memberikan pemasukan kepada devisa yang cukup besar pada 2018, dengan mencapai USD579,98 juta atau meningkat 19,1 persen dibanding 2017," ungkap Rochim.

    Ekspor produk kopi olahan dari Indonesia yang didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi, telah menembus ke sejumlah pasar mancanegara di ASEAN, Tiongkok, dan Uni Emirat Arab.

    Kemenperin juga mencatat, perdagangan produk kopi olahan pada 2018 mengalami surplus lebih dari USD420 juta. Surplus perdagangan produk kopi olahan 2018 meningkat 10,28 persen dari surplus 2017.

    "Dengan potensi pasar di dalam dan luar negeri yang masih terus berkembang, kami gencar memacu kinerja industri pengolahan kopi nasional agar bisa lebih berdaya saing global. Apalagi, sektor ini termasuk dalam kelompok industri makanan dan minuman, yang mendapat prioritas pengembangan sesuai dengan peta jalan Making Indonesia 4.0," paparnya.

    Adapun kebijakan pengembangan industri pengolahan kopi di dalam negeri yang telah dijalankan, antara lain melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) seperti barista, roaster, penguji cita rasa (cupper). Kemudian, peningkatan nilai tambah biji kopi di dalam negeri dan peningkatan mutu kopi olahan utamanya kopi sangrai (roasted bean) melalui penguasaan teknologi roasting.

    "Kami juga mendorong pengembangan standar produk melalui SNI dan standar kompetensi kerja (SKKNI). Kami berharap di masa depan, Indonesia menjadi eksportir utama produk kopi olahan di Asia dan dunia. Apalagi, minum kopi telah menjadi gaya hidup masyarakat saat ini," imbuhnya.

    Rochim menambahkan Indonesia dikenal sebagai penghasil kopi terbaik dunia berdasarkan keragaman indikasi geografisnya. Saat ini, telah terdaftar 31 indikasi geografis kopi di Indonesia dan masih terus bertambah. "Indonesia juga dikenal sebagai negara yang membudidayakan kopi varietas arabika, robusta, dan liberika," sebutnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id