Pemerintah Perlu Antisipasi Potensi Kenaikan Harga CPO

    Suci Sedya Utami - 25 Januari 2020 16:35 WIB
    Pemerintah Perlu Antisipasi Potensi Kenaikan Harga CPO
    Pemerintah Perlu Antisipasi Potensi Kenaikan Harga CPO. FOTO: MI/Gino F Hadi
    Jakarta: Pemerintah diminta mengantisipasi potensi kenaikan harga crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit mentah. Sebab, kenaikan harga CPO bisa berdampak pada program biodiesel.

    Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan kenaikan harga CPO akan mendorong pengusaha sawit untuk lebih memilih mengekspor. Sementara di dalam negeri, Indonesia memiliki program biodiesel atau mencampurkan solar dengan turunan CPO berupa fatty acid methyl ester (FAME).

    Ia bilang memang tidak semua pengusaha sawit memasok FAME untuk biodiesel, hanya beberapa pengusaha yang memasok FAME pada PT Pertamina (Persero) sebagai badan usaha penugasan yang melakukan pencampuran tersebut. Namun, kata Fabby, hal ini menjadi tidak adil bagi pengusaha tersebut lantaran kehilangan kesempatan untuk ekspor, sementara pengusaha lainnya bisa leluasa ekspor CPO ketika pasar gobal sedang tinggi.

    "Ketika harga pasarnya tinggi, kalau hanya sekian pemasok, mereka kehilangan kesempatan ekspor. Ini membuat dinamika di dalam pasar biofuel," kata Fabby pada Medcom.id, Sabtu, 25 Januari 2020.

    Fabby ingin untuk menghilangkan kesenjangan ini, diperlukan kebijakan pengalokasian untuk kebutuhan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO) seperti yang diterapkan pada batu bara.

    Dengan demikian, bukan hanya lima atau enam pengusaha yang memasok untuk kebutuhan di dalam negeri. Namun, semua podusen sawit khususnya produsen besar harus memenuhi ketentuan tersebut.

    Termasuk juga mengenai capping atau pembatasan harga di level tertentu. Sehingga apabila harga CPO naik terus, maka untuk di dalam negeri bisa membeli dengan batas harga tertentu.

    "Apakah harga akan ditetapkan kalau DMO, sampai dengan batas berapa, misalnya USD650 per ton," tutur Fabby.

    Ia bilang selisih antara harga CPO dengan harga minyak dunia yang saat ini mengalami penurunan juga perlu diantisipasi. Mengingat Indonesia tengah menggencarkan penggunaan energi bersih dengan harga yang terjangkau. Dengan naiknya harga CPO, maka selisihnya akan bertambah besar ke harga BBM murni.

    Selain itu, lanjut Fabby kenaikan harga CPO juga akan membuat subsidi BBM meningkat. Saat ini subsidi dari selisih harga CPO di pasar dengan yang digunakan untuk program biodiesel memang ditanggung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit ( BPDP-KS).

    "Selisih antara harga internasional (CPO) dengan harga BBM kan bertambah lebar juga, karena harga minyak dunia kecenderungannya turun. Kalau selisihnya semakin besar itu bahaya, Maka khawatirnya kalau terus nanti enggak cukup dananya untuk memasok atau memberikan subsidi bagi biofuel.  Ini harus diantisipasi pemerintah," jelas dia.

    Data CIF Rotterdam mencatat harga CPO mencapai USD830 per MT setelah melewati tiga pekan di Januari 2020.

    Harga CPO rata-rata pada periode ini jauh lebih baik dibandingkan harga rata-rata periode yang sama di dua tahun sebelumnya.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id