2020, Industri Multifinance Diprediksi Tumbuh 4%

    Angga Bratadharma - 21 November 2019 12:41 WIB
    2020, Industri <i>Multifinance</i> Diprediksi Tumbuh 4%
    Ketua APPI Suwandi Wiratno. Foto: Medcom.id/Angga Bratadharma.
    Jakarta: Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) meyakini industri perusahaan pembiayaan atau multifinance akan tetap tumbuh positif di 2020. Meski demikian, tetap perlu diwaspadai adanya sejumlah tantangan yang harus diselesaikan sebaik mungkin agar tidak mengganggu laju pertumbuhan.

    "Outlook 2019 ada tekanan dari sisi batu bara termasuk investasi di CPO. Tapi kita berterima kasih pemerintah mengarahkan ke G20. Jadi seharusnya 2020 (bisnis multifinance) lebih baik. Diperkirakan industri multifinance tumbuh empat persen di 2020," kata Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno, di Le Meridien Hotel, Jakarta, Kamis, 21 November 2019.

    Adapun sejumlah peluang diyakini Suwandi tetap hadir guna memberikan katalis positif terhadap pertumbuhan industri multifinance di Indonesia. Peluang itu seperti pertama pembiayaan dana, perusahaan pembiayaan memiliki kesempatan untuk melakukan pembiayaan dana secara langsung kepada konsumen termasuk di sektor pariwisata.

    Kedua, pertumbuhan UMKM di Indonesia. Ketiga, pembangunan infrastuktur yang meningkatkan
    permintaan alat berat di sektor konstruksi. Keempat, kerja sama dan pengembangan IT untuk menggapai generasi milenial sebagai calon debitur.

    Meski terdapat peluang, namun Suwandi menekankan adanya kewaspadaan karena ada tantangan yang menghadang. Pertama, Industri otomotif diprediksikan belum ada peningkatan penjualan. Kedua, industri alat berat yakni terdapat penurunan harga batu bara dan harga CPO membuat industri pertambangan dan perkebunan akan mengalami penurunan permintaan
    alat berat.

    "Ketiga, permasalahan pendanaan bagi beberapa perusahaan pembiayaan. Keempat, masalah perpajakan. Kelima, penerapan PSAK 71 yakni pencadangan meningkat," tuturnya.

    Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memastikan stabilitas sektor jasa keuangan masih terjaga dengan baik. Catatan kinerja ini didukung oleh tingkat permodalan dan likuiditas lembaga jasa keuangan yang memadai.

    "Kinerja intermediasi keuangan masih solid dengan pertumbuhan kredit perbankan masih pada level dua digit dan didukung dengan profil risiko yang terjaga pada level yang rendah," kata Wimboh.

    Adapun pembiayaan dari lembaga pembiayaan per Februari 2019 masih tumbuh positif mencapai 4,61 persen yoy (Desember 2018: 5,17 persen yoy) dengan Non Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan per Februari 2019 yang relatif terjaga sebesar 2,70 persen.

    Dalam menjaga resiliensi lembaga keuangan nasional dan menghadapi downside risk perlambatan ekonomi global, lanjut Wimboh, OJK terus meningkatkan kapasitas pelaku di industri keuangan baik dari sisi permodalan maupun manajemen risikonya.

    OJK juga akan terus meningkatkan peran sektor jasa keuangan untuk menyediakan pembiayaan bagi pembangunan khususnya melalui pengembangan pasar modal baik dari sisi supply maupun demand.

    "OJK juga akan terus membuka akses keuangan seluas-luasnya bagi UMKM dan masyarakat di daerah pedesaan dan daerah terpencil di antaranya melalui perluasan pemanfaatan teknologi keuangan, penyaluran KUR dengan skema kluster dan pendirian Bank Wakaf Mikro," pungkasnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id