Pupuk Indonesia Tekan Konsumsi Gas dengan Merevitalisasi Pabrik

    Husen Miftahudin - 12 Desember 2019 15:48 WIB
    Pupuk Indonesia Tekan Konsumsi Gas dengan Merevitalisasi Pabrik
    Stok pupuk di gudang milik PT Pupuk Indonesia. Foto: dok Pupuk Indonesia.
    Jakarta: PT Pupuk Indonesia (Persero) telah menjalankan strategi dalam rangka mengantisipasi persoalan pasokan gas di industri pupuk dan petrokimia. Strategi tersebut di antaranya melalui program revitalisasi pabrik tua hingga optimalisasi penggunaan gas untuk bahan baku.

    Kepala Komunikasi Korporat PT Pupuk Indonesia Wijaya Laksana mengatakan langkah tersebut sejauh ini cukup efektif dalam mengurangi konsumsi gas pabrik-pabrik pupuk milik anak perusahaannya.

    "Revitalisasi pabrik ini selain menambah kapasitas, bertujuan juga untuk mengganti pabrik-pabrik tua yang sudah boros konsumsi bahan bakarnya dengan pabrik baru yang jauh lebih efisien," ujar Wijaya dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 12 Desember 2019.

    Wijaya mencontohkan, pabrik yang sudah tua dengan rata-rata konsumsi gas mencapai 40 MMBTU diganti dengan pabrik baru dengan konsumsi gas hanya 26 MMBTU." Itu sudah penghematan (gas) yang cukup signifikan," jelasnya.

    Selain itu, sambung Wijaya, pihaknya juga dapat menghemat konsumsi gas melalui optimalisasi pemakaian gas yang fokusnya hanya sebagai bahan baku. Sebelumnya gas tidak hanya untuk bahan baku produksi pupuk, tapi juga sebagai sumber energi utilitas pabrik seperti listrik, steamed, hingga uap.

    "Kini utility-nya kita ganti dengan batu bara. Sementara gas kami maksimalkan sebagai bahan baku," urai dia.Di sisi lain Pupuk Indonesia memastikan ketersediaan pupuk di 34 Provinsi di Indonesia. Secara nasional, Pupuk Indonesia Grup menyediakan pupuk non-subsidi sebanyak 287.298 ton. Angka tersebut terdiri 126.994 ton Urea, 159.693 ton NPK, 297 ton SP-36 dan 314 ton ZA.

    "Sejak awal tahun kami telah menugaskan kepada produsen pupuk untuk selalu menyediakan pupuk nonsubsidi di kios-kios resmi guna menunjang kebutuhan pupuk para petani. Maka dari itu, petani yang telah kehabisan alokasi pupuk bersubsidi diharapkan tidak perlu khawatir," ungkapnya.

    Wijaya menegaskan, dalam menjalankan penugasan penyaluran pupuk bersubsidi, Pupuk Indonesia Grup selalu berdasarkan alokasi di masing-masing provinsi dan selalu mengacu pada prinsip 6T, yakni tepat waktu, tepat mutu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat harga serta tepat tempat.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id