Luhut Berharap Evaluasi Perpres Mobil Listrik Lancar

    Ilham wibowo - 06 Maret 2019 09:31 WIB
    Luhut Berharap Evaluasi Perpres Mobil Listrik Lancar
    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (MI/PIUS ERLANGGA)
    Jakarta: Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman memastikan telah memfinalisasi pengesahan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai pengembangan industri mobil listrik. Evaluasi kendala teknis juga telah dilakukan.

    "Sudah diserahkan ke saya jadi (draf Perpres) sudah selesai," kata Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, di Kemenko Maritim, Jakarta, Selasa, 5 Maret 2019.
    Luhut mengharapkan aturan main pengembangan kendaraan ramah lingkungan ini bisa berjalan mulus. Pengesahan hanya tinggal menunggu keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi). "Mungkin enggak dibawa di Ratas tapi langsung ke Setneg karena sudah diperiksa. Semoga enggak ada yang masalah lagi," ungkapnya.

    Menurut Luhut evaluasi teknis draf Perpres yang dilakukan dengan tidak mengubah rencana fasilitas insentif fiskal dan persiapan infrastruktur. Sinkronisasi sebelumnya pun telah dilakukan bersama Kementerian Perindustrian (Kemenperin) maupun Kementerian Keuangan (Kemenkeu).  

    "Sudah jadi dari sini karena yang mengerjakan sudah semua. Dari Setneg, Kementerian ESDM, dan Kemenperin ada semua yang terkait," ungkapnya.

    Dalam kesempatan berbeda, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan penyusunan perpres sebagai payung hukum persyaratan yang akan menggunakan fasilitas insentif. Tahap awal implementasi akan diberlakukan dengan bea masuk nol persen dan penurunan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk kendaraan bermotor listrik.

    "Mengenai fasilitas fiskal, kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan. Setelah disepakati dan sesuai arahan ratas, selanjutnya dikoordinasikan dengan Menko Perekonomian dan Kemaritiman untuk persiapan Perpresnya. Kemudian, Menteri Keuangan akan berkonsultasi dengan Komisi XI DPR," ujarnya.

    Airlangga menuturkan pengembangan kendaraan listrik akan dapat mengurangi ketergantungan pada pemakaian BBM serta mengurangi ketergantungan pada impor BBM. Potensi menghemat devisa juga mencapai Rp789 triliun. Kementerian Perindustrian, kata Airlangga, telah menyusun peta jalan untuk pengembangan industri otomotif nasional.

    Salah satu fokusnya adalah memacu produksi kendaraan emisi karbon rendah atau low carbon emission vehicle (LCEV) termasuk didalamnya kendaraan listrik. "Targetnya, pada 2025 populasi mobil listrik diperkirakan tembus 20 persen atau sekitar 400.000 unit dari 2 juta mobil yang diproduksi di dalam negeri," ujar Airlangga.

    Di samping itu, pada 2025, juga dibidik sebanyak 2 juta unit untuk populasi motor listrik. "Jadi, langkah strategis sudah disiapkan secara bertahap, sehingga kita bisa melompat untuk menuju produksi mobil atau sepeda motor listrik yang berdaya saing di pasar domestik maupun ekspor," tuturnya.

    Airlangga menilai salah satu kunci pengembangan kendaraan listrik berada pada teknologi baterai. Indonesia mempunyai sumber bahan baku untuk pembuatan komponen baterai, seperti dari nikel laterit yang merupakan material energi baru.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id