Pemerintah Diminta Fokus Kendalikan Tembakau

Ilham wibowo - 11 Januari 2019 17:15 wib
Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi (kedua dari kanan).
Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi (kedua dari kanan). (FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo)

Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendorong pemerintah fokus mengendalikan tembakau. Dampak buruk mengonsumsi rokok dinilai sebagai ganjalan implementasi pelaksanaan nawacita pembangunan sumber daya manusia.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan sepanjang 2018 kebijakan dalam pengendalian tembakau dinilai menjadi ancaman serius dalam tujuan meningkatkan kualitas hidup bangsa yang belum tercapai.

Dia mengatakan indikator yang paling menonjol dalam hambatan tersebut yakni meningkatkatnya prevalensi penyakit menular seperti kanker, stroke, dan penyakit ginjal. Jumlah penderita penyakit lainnya seperti diabetes melitus dan hipertensi juga masih mendominasi masyarakat di Tanah Air.

"Melambungnya prevalensi penyakit tidak menular ini berkorelasi dengan gaya hidup seperti merokok, minimnya aktivitas fisik, minimnya asupan buah dan sayur, serta minuman beralkohol," ucap Tulus ditemui dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta, Jumat, 11 Januari 2019.

Data peningkatan prevelensi penyakit tidak menular ini dideteksi dari hasil survei riset kesehatan dasar (Riskesdas) pada 2018 yang jumlahnya menurun dibanding 2013. Tulus mencontohkan prevalensi kanker semula 1,4 persen naik menjadi 1,8 persen; stroke dari tujuh persen menjadi 10,9 persen; dan penyakit diabetes melitus dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen.

"Merokok memang bukan penyebab tunggal, tetapi konsumsi rokok punya kontribusi paling signifikan meningkat lebih dari 35 persen orang Indonesia adalah perokok aktif dan 70 persen sebagai perokok pasif," paparnya.

Menurut Tulus, keluarnya hasil Riskesdas 2018 mestinya membuka mata pemerintah Jokowi untuk mengendalikan konsumsi rokok. Satu di antara instrumen pengendalian bisa dilakukan dengan menaikkan cukai.

Defisit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang mencapai Rp16,5 triliun juga menjadi tantangan lain. Mestinya, kata Tulus, pemerintah perlu berani menaikan cukai rokok paling maksimal sampai 200 persen.

"Upaya pengendalian rokok yang paling efektif yaitu dengan harga yang mahal agar tidak terjangkau oleh masyarakat kurang mampu dan anak-anak," pungkasnya.

 


(AHL)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.