Audit BPK soal Jiwasraya Jadi Pijakan Pemerintah Ambil Sikap

    Eko Nordiansyah - 08 Januari 2020 05:16 WIB
    Audit BPK soal Jiwasraya Jadi Pijakan Pemerintah Ambil Sikap
    Badan Pemeriksa Keuangan. Foto : MI/Irfan.
    Jakarta: Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menunggu laporan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

    Staf Ahli Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan pihaknya berharap hasil audit tersebut dilaporkan secara transparan tanpa menutupi satu bagian pun. Ia bilang Kementerian BUMN percaya BPK merupakan lembaga yang terpercaya dan dapat melakukan yang terbaik.

    "Kami berharap hasilnya betul-betul terbuka sehingga terang benderang enggak ada yang ditutup-tutupi," kata Arya di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Selasa, 7 Januari 2020.

    Dia mengatakan auidt tersebut merupakan permintaan dari pihak Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk membuktikan adanya dugaan kerugian negara. Dia bilang apabila benar menyebabkan kerugian negara maka masuk dalam perkara pidana.

    Arya mengatakan hasil audit tersebut nantinya bisa menjadi rujukan bagi Kementerian BUMN dan Kejagung untuk bertindak lebih lanjut. "Itu bisa jadi masukan bagi Kejaksaan maupun bagi kami untuk mengambil sikap," jelas dia.

    Sebelumnya BPK menyatakan akan mengumumkan hasil audit terhadap Jiwasraya pada Rabu, 8 Januari 2020. Ketua BPK Agung Firman Sampurna mengatakan audit dilakukan secara keseluruhan terhadap seluruh hal yang terlibat baik secara kelembagaan hingga individu yang terlibat. Ia mengatakan potensi kerugian negara juga menjadi perhitungan dalam audit tersebut.

    Ia mengatakan potensi kerugian negara juga menjadi perhitungan dalam audit tersebut. Dalam pengumuman audit nanti akan disampaikan bersama dengan pihak Kejaksaan Agung.

    "Saya ingin sekali sampaikan cepat-cepat, tapi ya kita akan sampaikan pada tanggal 8 secara khusus dengan Jaksa Agung termasuk dia akan lakukan re-announcement ada beberapa hal penting," kata Agung.

    Jiwasraya diduga banyak melakukan investasi pada aset-aset dengan risiko tinggi untuk mengejar keuntungan besar. Di antaranya penempatan saham sebanyak 22,4 persen senilai Rp5,7 triliun dari aset finansial.
     
    Lima persen dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik, sisanya dana ditempatkan di saham yang berkinerja buruk. Kemudian, penempatan reksa dana sebanyak 59,1 persen senilai Rp14,9 triliun.
     
    Dua persen dikelola manajer investasi dengan kerja baik. Sementara itu, 98 persen dikelola manajer investasi dengan kinerja buruk. Akibatnya, Jiwasraya sampai Agustus 2019 menanggung potensi kerugian negara Rp13,7 triliun.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id