Industri Pupuk Tanah Air Berpotensi Gulung Tikar

    Suci Sedya Utami - 05 Desember 2019 20:29 WIB
    Industri Pupuk Tanah Air Berpotensi Gulung Tikar
    Pupuk. Foto : MI/Safir Makki.
    Jakarta: Industri pupuk Tanah Air mengalami kekurangan pasokan gas. Bahkan sebagian industri pupuk diramal akan berhenti beroperasi karena kelangkaan pasokan gas.

    Salah satunya PT Pupuk Indonesia (Persero). Direktur Utama Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat mengatakan selain kekurangan pasokan, sebagian kontrak pasokan gas yang dimiliki perusahaan pupuk bersifat jangka pendek sekitar 2-3 tahun. Pihaknya berharap bisa memperoleh kepastian pasokan untuk jangka panjang.

    “Apalagi, mayoritas kontrak gas berakhir di 2021-2022 dan banyak yang belum ada kepastian gasnya, termasuk alokasinya belum kami terima,” kata Aas dalam rapat dengar pendapat dengan Ditjen Migas, SKK Migas dan BUMN Pupuk di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 5 Desember 2019.

    Kelangkaan pasokan jangka panjang diklaim akan berdampak pada kelanjutan operasi pabrik. Aas mencontohkan, pabrik milik  PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) akan berhenti operasi seluruhnya jika tidak ada kepastian gas di 2020. Kemudian, sebagian pabrik Pupuk Kujang dan Pusri juga akan menyusul berhenti beroperasi masing-masing di 2023 dan 2024 karena ada kekurangan pasokan. Sementara pabrik urea Petrokimia Gresik berpotensi operasi pada 2021

    Dia juga mengakui bahwa tidak adanya pasokan gas jangka panjang ini berkaitan dengan harga gas. Saat ini, harga gas yang dibayarkan pihaknya melebihi keekonomian pabrik, yakni rata-rata USD5,8 per mmbtu. Angka ini bahkan lebih tinggi dari harga gas bagi pabrik pupuk di beberapa negara lain, di mana rata-rata USD3,95 per mmbtu. Di sisi lain, porsi harga gas ini mencapai 70 persen dari total biaya produksi.

    “Iskandar Muda ada kontrak, tetapi ini belum juga efektif karena harga yang ditetapkan USD7,8 per mmbtu. Sriwidjaja ada yang berakhir di 2023-2027 dengan harga USD5,2-6 ditambah toll fee. Kujang berakhir di 2022 dengan harga USD5,73-6 per mmbtu. Petrokimia Gresik harga relative besar sekitar USD6,36-7,85 per mmbtu,” jelas Aas.

    Data dari Pupuk Indonesia, kebutuhan dan pasokan gas untuk industri pupuk di antaranya:

    PT Pupuk Iskandar Muda kebutuhannya pada 2019 110 juta standar kaki kubik (mmscfd) namun pasokannya sebesar 30 mmscfd. Artinya ada defisit gas sebesar 80 mmscfd.

    PT Pusri Palembang kebutuhannya pada 2019 190 mmscfd dan pasokannya sebesar 225 mmscfd. Terdapat surplus gas sebesar 35 mmscfd.

    PT Pupuk Kujang kebutuhannya pada 2019 101 mmscfd namun pasokannya sebesar 91 mmscfd. Artinya ada defisit gas sebesar 10 mmscfd.

    PT Petrokimia Gresik kebutuhannya pada 2019 144 mmscfd namun pasokannya sebesar 132 mmscfd. Artinya ada defisit gas sebesar 12 mmscfd.

    PT Pupuk Kalimantan Timur kebutuhannya pada 2019 346 mmscfd, jumlah pasokannya sebesar 364 mmscfd.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id