Wamen BUMN: Penyelamatan Asuransi Jiwasraya Pelik

    Suci Sedya Utami - 12 November 2019 07:44 WIB
    Wamen BUMN: Penyelamatan Asuransi Jiwasraya Pelik
    Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmojo. MI/SUSANTO
    Jakarta: Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II Kartika Wirjoatmodjo menilai penyelamatan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) pelik. Hingga saat ini Kementerian BUMN pun belum memutuskan bagaimana cara untuk menyelesaikan permasalah perusahaaan asuransi nasional itu.

    Meskipun diakui Tiko, sapaan akrab dirinya, bahwa ada beragam opsi yang tertuang dalam undang-undang yang bisa digunakan. Namun, ia mengatakan, opsi-opsi tersebut masih dikaji termasuk dengan cara menjinjeksi modal melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

    "Mikirnya belum selesai (untuk keluarkan dana APBN), nanti kalau sudah pasti diomongin. Ini masalah kan pelik sekali," kata Tiko, ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Senin malam, 11 November 2019.

    Mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini mengatakan apabila nantinya akan menggunakan APBN, Kementerian BUMN juga perlu melibatkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebagai bendahara negara. Tentunya harus dipahami bagaimana kesiapan anggarannya terlebih dahulu.

    "Itu kan ukurannya besar ya, perlu kerja sama dengan Kementerian Keuangan," tutur Tiko.

    Menteri BUMN Erick Thohir pun tidak mau gegabah menyuntikkan likuiditas bagi Jiwasraya yang gagal bayar. Pasalnya, kegagalan perusahaan asuransi dalam memenuhi kewajibannya membayarkan klaim kepada para nasabah merupakan persoalan serius.

    "Kan tetap berproses (permintaan Jiwasraya mendapat suntikan modal). Kalau cuma nyuntik-nyuntik saja hilang lagi buat apa," kata Erick.

    Menurut Erick Jiwasraya tidak cukup dibenahi dengan memberikan suntikan modal maupun merombak struktur organisasi. Saat ini, Jiwasraya akan mengeluarkan produk baru melalui skema kerja sama dengan perusahaan reasuransi untuk memperbaiki likuiditas perusaahaannya.

    "Karena memang penyelesaian Jiwasraya itu harus dijalankan secara bersamaan, tidak bisa hanya sekadar merombak direksi, komisaris atau misalnya menyuntik uang. Tapi kan seperti apa gitu. Tidak bisa kita mikir hanya satu titik gitu," tutur dia.

    Jiwasraya membutuhkan dana Rp32,89 triliun agar bisa mencapai rasio Risk Based Capital (RBC) minimal 120 persen. Secara umum, RBC adalah pengukuran tingkat kesehatan finansial suatu perusahaan asuransi, dengan ketentuan OJK mengatur minimal batas RBC sebesar 120 persen.

    Terdapat empat alternatif penyelamatan Jiwasraya. Mulai dari strategic partner yang menghasilkan dana Rp5 triliun, inisiatif holding asuransi Rp7 triliun, menggunakan skema finansial reasuransi sebesar Rp1 triliun dan sumber dana lain dari pemegang saham sebesar Rp19,89 triliun. Jadi, total dana yang dihimpun dari penyelamatan tersebut sebesar Rp32,89 triliun.

    Tidak cukup sampai situ, perusahaan asuransi jiwa juga punya opsi penyelamatan lain. Jiwasraya akan mendirikan anak perusahaan baru yaitu Jiwasraya Putra yang memanfaatkan ekosistem perusahaan pelat merah. Jiwasraya juga berharap segera mendapatkan lisensi asuransi jiwa dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    Nantinya Jiwasraya Putra akan membuat perjanjian kerjasama distribusi, salah satunya melalui kerja sama kanal pemasaran bancassurance. Kerja sama tersebut akan menggandeng perusahaan BUMN seperti PT Bank Tabungan Negara Tbk, PT Pegadaian, PT Telekomunikasi Seluler dan PT Kereta Api Indonesia.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id