Kenaikan Cukai Rokok Diharapkan tak Membebani Industri

Eko Nordiansyah - 16 Mei 2018 18:25 wib
Ilustrasi. (Foto: Antara/Aditya).
Ilustrasi. (Foto: Antara/Aditya).

Jakarta: Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menilai rencana kenaikan cukai rokok akan membebani masyarakat. Pasalnya selama beberapa tahun terakhir, pemerintah selalu menaikan cukai rokok tanpa memperhatikan dampaknya.

"Kalau pendapatan masyarakat bertambah, tidak masalah cukai dinaikkan. Tapi pendapatan masyarakat juga belum naik," kata Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan APPSI Sjukrianto dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu, 16 Mei 2018.

Menurut dia, pemerintah harusnya memperhatikan dampak yang dirasakan masyarakat, terutama terkait pendapatan dari penjualan rokok. Dengan tarif kenaikan cukai rokok rata-rata 10,04 persen di tahun ini, penjualan di tingkat eceran mengalami penurunan.

"Para pedagang eceran sudah mengalami penurunan penjualan. Kami memperkirakan pertumbuhan pendapatan dari penjualan rokok di tahun ini stagnan. Apalagi kalau cukai rokok tambah dinaikkan, pendapatan tidak akan tumbuh," jelas dia.

Anggota Komisi XI DPR RI Wilgo Zainar berharap pemerintah tidak membebani industri dengan kenaikan cukai yang tinggi pada 2019. Menurut dia, kenaikan cukai rokok pasti akan berdampak pada serapan hasil produksi petani tembakau, penyerapan tenaga kerja, juga penerimaan cukai dan pajak rokok.

"Tarif yang sekarang ini sangat membebani industri rokok. Jika pemerintah ingin mendapatkan penerimaan cukai yang lebih optimal, seharusnya bisa melalui ekstensifikasi barang kena cukai lainnya dan bukan dengan kenaikan tarif cukai yang tinggi," kata dia.

Sementara itu, Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi) mengkhawatirkan permasalahan lain yang timbul akibat dari kenaikan cukai yang terlalu tinggi. Diperkirakan hal ini semakin mendorong maraknya peredaran rokok ilegal.

"Masyarakat, kata dia, akan beralih mengonsumsi rokok ilegal yang harganya relatif lebih murah. Semakin mahal harga rokok, maka semakin marak peredaran rokok ilegal," kata Anggota Dewan Penasihat Formasi Andriono Bing Pratikno.


(AHL)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.