Indonesia Perluas Perjanjian Dagang untuk Tingkatkan Ekspor

    Eko Nordiansyah - 31 Januari 2018 15:20 WIB
    Indonesia Perluas Perjanjian Dagang untuk Tingkatkan Ekspor
    Ekspor. (ANT/M Agung Rajasa).
    Jakarta: Kementerian Perdagangan membidik perjanjian perdagangan dengan negara lain demi meningkatkan ekspor nasional. Selama 2017 Indonesia hanya membuka kerja sama perdagangan bilateral dengan Chile. Kerja sama ini setelah indonesia selama 10 tahun tidak melalukan perjanjian perdagangan dengan negara lain.

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, Presiden Joko Widodo mendorong indonesia untuk membuka pasar ekspor baru di negara-negara non tradisional. Upaya ini diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor, yang masih kalah jika dibandingkan dengan negara lain.

    "Itulah sebabnya beliau tekankan untuk buka pasar-pasar baru. Hampir 10 tahun atau tujuh sampai delapan tahun kita tidak ada perjanjian dagang apapun. Baru tahun lalu dengan Chile, dan semua (pembahasan) perjanjian kita berlarut," kata Enggar di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu 31 Januari 2018.

    Enggar menambahkan, negara tetangga sudah lebih dulu membuka diri dengan kerja sama perdagangan dengan negara lain. Namun kondisi perdagangan internasional pada akhir-akhir ini dinilai juga berdampak pada sulitnya Indonesia membuka kerja sama perdagangan dengan negara lain.

    "Masalah utama kita bicara internal sendiri antara lembaga penyelesaiannya. Lalu dinamika perdagangan luar negeri apalagi akhir-akhir ini mereka cenderung proteksionis jadi lebih sulit negosiasinya. Tapi itu tidak buat surut, kami tetap yakini 2018 ada perjanjian multirateral yang bisa kita selesaikan selain bilateral," jelas dia.

    Namun demikian, Enggar tak mau jika perjanjian perdagangan hanya menguntungkan bagi Indonesia saja. Untuk itu, dirinya akan memastikan jika kerja sama bilateral atau multilateral yang dijalankan bisa saling menguntungkan.

    "Kita tidak boleh egois hanya mau ekspor, tapi tidak mau impor, kalau dagang harus ada keduanya. Makanya semuanya sangat calculated, yang berat adalah menghitung berapa banyak potensi arus barang dari valuenya masuk, dan berapa yang kita bisa masuk ke sana, dilihat neracanya, potensi dan proyeksinya ke depan," pungkasnya.

    Pada 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) total ekspor selama 2017 sebesar USD168,73 miliar sedangkan total impor USD156,89 miliar. Hal ini membuat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar USD11,84 miliar didukung oleh surplus non minyak dan gas (migas) sebesar USD20,40 miliar meskipun dari sisi migas mengalami defisit sebesar USD8,56 miliar.

     



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id