16 Juta Masyarakat RI Bergantung pada Kebun Sawit

    Ilham wibowo - 19 November 2019 15:57 WIB
    16 Juta Masyarakat RI Bergantung pada Kebun Sawit
    Ilustrasi petani sawit. Foto: Medcom.id/Nia Deviyana.
    Jakarta: Produk industri kelapa sawit Indonesia terus diupayakan agar bisa masuk ke pasar Uni Eropa dalam jangka panjang. Komoditas pertanian ini masuk dalam negosiasi utama Indonesia European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

    Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pihaknya ikut berkonsentrasi dalam penyelesaian IEU-CEPA yang masih berkutat pada isu lingkungan. Kesepakatan perjanjian dagang ini pun dinilai bisa menjadi jembatan bagi hubungan kerja sama yang lebih baik antar kedua pihak.

    "Sawit the element of negotiation, 16 juta orang bergantung dengan industri perkebunan sawit," kata Retno dalam rapat kerja nasional bersama Kadin Indonesia di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Selasa, 19 November 2019.

    Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta W Kamdani menambahkan negosiasi IUE-CEPA memang berjalan alot. Namun demikian bukan tidak mungkin kesepakatan bisa terjalin setelah Uni Eropa yakin sawit merupakan komoditas ramah lingkungan.

    "Palm oil ini masalah yang masih sangat pelik dan itu ada satu chapter khusus terkait sustainable devlelopement. Prinsipnya perjanjian ini punya kepentingan akan bermanfaat pada sektor-sektor yang padat karya," ujarnya.

    Negosiasi dalam IEU-CEPA juga mesti dilakukan secara hati-hati lantaran produk sawit RI saat ini telah mendapatkan diskriminasi di negara Uni Eropa. Diplomasi ekonomi dinilai perlu sejalan dengan penguatan pangsa pasar.

    "Karena ini makan waktu dan kalau kita hentikan semuanya kita akan tentu saja kalah dengan negara seperti Vietnam yang sudah mendahului Indonesia," ujarnya.

    Kelapa sawit tak diragukan jadi salah satu komoditas andalan Indonesia dan penyumbang devisa terbesar. Sebagai negara penghasil sawit terbesar di dunia, Indonesia memproduksi minyak kelapa sawit sekitar 46 juta ton per tahun. Dari tahun ke tahun, komoditas yang telah dianggap sebagai emas hijau ini bertumbuh, meskipun dikepung berbagai isu negatif.

    Berdasarkan data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) selama 2018 sebesar 34,71 juta ton, naik delapan persen dibandingkan 2017. Selain itu, produk turunan CPO seperti refined CPO dan minyak laurat juga mengalami kenaikan cukup signifikan yakni tujuh persen, dari yang sebelumnya 23,89 juta ton menjadi 25,46 juta ton.

    Kelapa sawit pun menjadi salah satu bahan baku utama biodiesel atau bahan bakar nabati, yang dianggap sebagai salah satu alternatif energi baru pengganti bahan bakar fosil yang diperkirakan akan habis dalam 70-80 tahun lagi.

    Meskipun demikian, industri kelapa sawit di Indonesia hingga saat ini masih terus menemui sejumlah tantangan yang harus dihadapi, seperti larangan dari Uni Eropa (UE) dan kampanye negatif dari serangkaian lembaga swadaya masyarakat (LSM).

    UE akan mengenakan bea masuk anti-subsidi (BMAS) antara 8-18 persen terhadap produk impor biodiesel dari Indonesia. Pada Maret 2019 yang lalu, Komisi UE pun mengategorikan minyak sawit sebagai produk yang 'tidak berkelanjutan' alias tidak bisa digunakan sebagai bahan baku biodiesel.

    Tak hanya itu, Indonesia pun dituding sebagai negara dengan tingkat deforestasi tertinggi untuk kebutuhan lahan perkebunan kelapa sawit. Faktanya, total luas perkebunan kelapa sawit hanya sekitar 6,6 persen dari total lahan dunia.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id