E-Commerce Jembatan Pelaku UKM

    Nia Deviyana - 12 Maret 2019 09:58 WIB
    <i>E-Commerce</i> Jembatan Pelaku UKM
    Ilustrasi. (FOTO: AFP)
    Jakarta: Kehadiran e-commerce tidak hanya menjadi pendorong tercapainya potensi ekonomi digital, tetapi juga sebagai jembatan untuk membuka akses permodalan bagi para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

    AVP of Financing Solutions Bukalapak Sigit Suryawan menilai sudah saatnya pemilik toko offline mulai masuk ke penjualan online agar data penjualan dapat terekam dengan baik, yang pada akhirnya mempermudah akses untuk mendapat permodalan.

    "E-commerce adalah jembatan. Jadi ada banyak institusi keuangan ketika mau memvalidasi pendapatan dari micro-entrepreneur punya kendala seperti enggak ketahuan berapa tepatnya omzet mereka, berapa penjualan total, inventory-nya bagaimana, pada akhirnya bank memitigasi risiko dengan meminta banyak dokumen," papar Sigit saat mengisi diskusi di Satrio Tower, Jakarta Selatan, Senin, 11 Maret 2019.

    Sigit menilai tanpa masuk ke ranah online, pedagang tetap akan kesulutan mendapat akses permodalan meski tokonya berkembang.

    "Kalau mau maju tapi enggak punya digital footprint, tetap saja akan kesulitan mendapat akses permodalan di era terbarukan ini. Makanya saya mengimbau para penjual untuk segera bergabung," tambah dia.

    Senada dengan Sigit, Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Fadjar Hutomo menilai hal yang sama. Dia menuturkan masih banyak pelaku UMKM yang sulit mendapatkan permodalan dari bank karena dianggap tidak memiliki rekam jejak di industri keuangan. Di sisi lain, mereka juga tidak memiliki jaminan yang bisa meyakinkan bank untuk menyalurkan pinjaman.

    Berdasarkan survei International Financial Corporation (IFC) World Bank 2015, total aset keseluruhan yang dimiliki UMKM di Indonesia 45 persennya berbentuk barang bergerak, 33 persen berbentuk piutang, sementara hanya 22 persen yang berbentuk fixed assets seperti tanah atau bangunan.

    "Sementara lembaga keuangan di Indonesia dalam menyalurkan kreditnya, 73 persen mensyaratkan harus ada jaminan dalam bentuk fixed assets," papar Fadjar, belum lama ini.

    Kemajuan di era digital seharusnya bisa membantu pengusaha UMKM dalam memperoleh akses permodalan. Selain masuk marketplace, ketaatan membayar pajak yang terekam dalam NPWP seharusnya bisa dijadikan digital credibility sebagai dasar pemberian pinjaman. Sehingga kemudian ada dua manfaat yang bisa dirasakan, orang menjadi taat membayar pajak, kemudian industri UMKM bisa tumbuh dengan baik.

    "Sehingga kemudian kalau sekarang orang menghindari pajak, bisa jadi kemudian situasinya berubah ketika NPWP memiliki benefit, yakni menggambarkan kredibilitas Anda sehingga bisa memperoleh kredit," pungkasnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id