Industri Masih Andalkan Garam Impor

    Eko Nordiansyah - 20 Agustus 2019 22:39 WIB
    Industri Masih Andalkan Garam Impor
    Ilustrasi petani garam. (FOTO: Medcom.id/Ahmad Rofahan)
    Jakarta: Asosiasi Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) mengaku masih mengandalkan garam impor sebagai bahan baku produksi. Pasalnya garam produksi dalam negeri dinilai belum sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan oleh industri, sehingga impor garam masih dibutuhkan.

    "Impor garam adalah sebuah keniscayaan, keterpaksaan karena garam lokal itu belum bisa memenuhi syarat standar industri," kata Sekretaris Umum AIPGI Cucu Sutara di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Agustus 2019.

    Menurutnya, kriteria garam untuk industri yakni dengan kadar NaCl di atas 97 persen, dan kadar air kurang dari 0,5 persen. Sedangkan garam yang diproduksi di dalam negeri memiliki kadar NaCl kurang dari 94 persen, dengan kadar air di atas satu persen, bahkan mencapai lima persen.

    Dirinya menambahkan, perlu membuat industrialisasi terhadap produksi garam dalam negeri. Pasalnya selama ini produksi garam dilakukan oleh petani kecil dengan luas lahan yang tidak seberapa. Oleh karena itu, hasilnya masih kalah dengan garam yang diimpor dari luar negeri.

    "Luas lahannya, kan kita dikelola rakyat, padat karya, lahannya kecil. Yang lahan 26 ribu hektare (ha) kan bukan hasil garamnya, itu sudah saluran, petak garam berapa. Kalau mau tentunya harus industri," jelas dia.

    Selain kualitas, harga juga menjadi pertimbangan para pengusaha untuk menggunakan garam impor. Jika garam lokal bisa memenuhi syarat dan harganya terjangkau, maka industri dipastikan akan memilih garam lokal sebagai bahan baku produksinya.

    "Faktor harga, faktor kualitas ( jadi alasan lebih memilih garam impor). Enggak masalah (pakai garam lokal), tinggal sekarang mau enggak (industri) aneka pangan Indofood, Unilever pakai," ungkapnya.

    Meski demikian, pengusaha telah menyerap sebanyak 100 ribu ton garam lokal dari target 1,1 juta ton hingga Juli 2020. Cucu optimistis industri akan tetap menyerap garam lokal, walaupun penggunaannya terbatas hanya sebagai garam konsumsi, pengasinan ikan, penyamakan kulit, termasuk sebagian pakai es.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id