Mentan: Program B-100 Bisa Hemat Devisa Rp100 Triliun - Medcom

    Mentan: Program B-100 Bisa Hemat Devisa Rp100 Triliun

    19 Juni 2019 09:44 WIB
    Mentan: Program B-100 Bisa Hemat Devisa Rp100 Triliun
    Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Medcom/Annisa Ayu.
    Bogor: Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan program biodiesel 100 persen (B-100) yang kini tengah dikembangkan oleh Kementerian Pertanian akan menghemat devisa hingga Rp100 triliun ketika sudah optimal.

    "Bisa kita menghemat devisa, mungkin Rp100 triliun lebih kalau ini nanti sudah sempurna," ujarnya usai menggelar kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian (Musrenbangtan) 2019 di Kota Bogor, Jawa Barat dikutip dari Antara, Selasa, 18 Juni 2019.

    Menurutnya, energi yang bakal digunakan untuk mesin diesel ini sudah diujicobakan pada 50 mobil dinas dan alat mesin pertanian (alsintan). Hasil sementara, mesin berjalan stabil dan cenderung lebih hemat penggunaan.

    "Mesinnya bagus masih stabil. Bisa menghemat energi 35 persen, ramah lingkungan tidak berasap," sebutnya.

    Amran mengatakan jika sebuah kendaraan menggunakan bahan bakar solar bisa menempuh jarak 9 kilometer per liter, menggunakan B-100 bisa menempuh lebih jauh, yakni 13,4 kilometer per liter.

    "Ini adalah energi masa depan kita. Sudah jalan B100, tinggal dikomersilkan oleh Kementerian ESDM dan Perindustrian. Nanti kita lihat, yang jelas ini bisa dipakai oleh kendaraan 100 persen," kata Amran.

    Di samping itu, Amran juga membeberkan sejumlah capaian Kementerian Pertanian saat menggelar kegiatan Musrenbangtan.

    "Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh kepala dinas  provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia atas partisipasinya terhadap produksi produktivitas ekspor, inflasi, kemiskinan menurun, kemudian ekspor kita meningkat itu atas kerja keras kita semua," ujarnya.

    Menurutnya, meski anggaran Kementerian Pertanian menyusut dari Rp32 triliun menjadi Rp21 triliun sektor pertanian bisa meningkatkan hasil produksi buah dari kebijakan yang tepat dan juga tepat sasaran.

    Sedangkan kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak produktif dan tidak bisa mendorong pertumbuhan produksi akan dicabut sesuai arahan langsung dari Presiden Joko Widodo.

    "Program yang tidak produktif seperti biaya yang tidak penting, perjalanan dinas, seminar yang tidak penting, moratorium beli motor beli mobil itu tidak penting, cat kantor itu kita hilangkan," bebernya.

    Sebaliknya, program-program yang sudah baik di era kepemimpinan Jokowi - Jusuf Kalla menurutnya akan terus dilanjutkan, sehingga bisa meningkatkan investasi dan ekspor. Karena dua hal itu yang dianggap Amran bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id