Perusahaan Ritel Merugi Rp1,25 Triliun Akibat Banjir

    Ilham wibowo - 03 Januari 2020 13:01 WIB
    Perusahaan Ritel Merugi Rp1,25 Triliun Akibat Banjir
    Ilustrasi industri ritel. Foto: dok MI.
    Jakarta: Bencana banjir di wilayah Jabodetabek pada awal 2020 menyebabkan kerugian yang besar bagi perusahaan ritel. Aktivitas penjualan terhenti lantaran baik konsumen maupun karyawan menjadi korban.

    Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan pihaknya sangat prihatin dengan kondisi yang mestinya bisa diantisipasi pemerintah setempat. Ratusan supermarket dan minimarket sudah tutup total selama dua hari ini.

    "Aprindo prihatin terutama terhadap banjir ini, karena selain masyarakat yang terkena korban kami pun pelaku usaha terkena menjadi korban, toko tutup dan lain sebagainya," kata Roy kepada Medcom.id, Jumat, 3 Januari 2020.

    Menurut Roy, potensi kerugian yang pasti dirasakan yakni hilangnya kegiatan transaksi berbelanja di sektor konsumsi masyarakat. Angka kerugian yang tercatat cukup besar mencapai Rp1,25 triliun.

    "Kami kehilangan potensi tepatnya Rp1,250 triliun dan ini sangat disayangkan karena ini potensi pajak, kemudian untuk ekonomi, lalu kebutuhan masyarakat terkendala karena adanya banjir ini," paparnya.

    Angka tersebut hanya dihitung berdasarkan hilangnya transaksi di 400 toko ritel wilayah Jabodetabek yang terkena dampak langsung bencana banjir. Jumlah kerugian dipastikan bisa bertambah dengan lamanya air surut dan cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi hingga Februari 2020.

    "Katakanlah kalau masing masing orang karena masih tahun baru berbelanja Rp100 ribu per hari, kemudian saya hitung jumlah orangnya yang terkena dampak  langsung dievakuasi itu ada sekitar 32 ribu orang, hampir Rp1 triliun," tuturnya.

    Memasuki hari ketiga, lanjut Roy, kondisinya saat dipantau juga belum berubah. Air di beberapa lokasi belum surut dan masih menyulitkan karyawan untuk berbenah dan membuka toko secara normal.

    "Pagi ini baru 60 toko yang bisa buka dan masih di atas 50 persen atau sekitar 240 toko di Jakarta yang masih terendam dan masih dalam kondisi untuk tidak memungkinkan kami membuka," ungkapnya.

    Roy berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi Jabar serius mengatasi banjir untuk menjamin keberlangsungan ekonomi di wilayah pusat perekonomian terbesar di Indonesia. Rencana penangan darurat banjir di Jabodetabek pun mesti segera dilakukan terutama agar masyarakat bisa kembali normal beraktivitas.

    "Kami mengharapkan keseriusan Pemprov mengatasi masalah ini karena ini berimbas pada tingkat konsumsi. selama ini pertumbuhan ekonomi ditopang dari konsumsi rumah tangga," kata Roy.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id