Pemerintah Siapkan Terobosan Genjot Produktivitas Hutan Produksi

    Medcom - 05 Januari 2020 20:53 WIB
    Pemerintah Siapkan Terobosan Genjot Produktivitas Hutan Produksi
    Ilustrasi hutan. Foto: MI/Susanto
    Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyiapkan sejumlah terobosan untuk meningkatkan produktivitas hutan produksi. Hal ini dilakukan antara lain untuk meningkatkan produk domestik bruto (PDB). 

    "Terobosan ini intinya menyangkut tiga hal, yakni investasi meningkat, produktivitas hutan naik, dan daya saing industri hasil hutan juga naik," kata Sekretaris Jenderal KLHK Bambang Hendroyono melalui keterangan tertulis, Minggu, 5 Januari 2020.

    Adapun sejumlah terobosan yang disiapkan adalah: 
    1. Memberikan kemudahan investasi pemanfaatan hutan produksi,
    2. Mengembangkan usaha di hutan alam (HA) dan hutan tanaman industri (HTI). 
    3. Mengembangkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan jasa lingkungan, 
    4. Memberikan kemudahan investasi industri dan ekspor produk hasil hutan, serta 
    5. Mengoptimalkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

    Bambang mengatakan terobosan diperlukan karena kontribusi hutan produksi terhadap ekonomi Indonesia menurun pada 2019. Dari PNBP misalnya, pada 2019 tercatat penerimaan negara Rp2,73 triliun. Lebih kecil dari 2018 yang mencapai 2,86 trilun Rupiah. 

    Produksi kayu bulat pada 2019 juga menurun. Produksi HA sebanyak 6,77 juta meter kubik dan HTI sebanyak 36,23 juta meter kubik. Jumlah tersebut menurun dibandingkan dengan 2018 yang memproduksi HA sebesar 8,60 juta meter kubik dan HTI 40,14 juta meter kubik. 

    "Nilai investasi juga menurun, Pada 2019 nilai investasi sebesar Rp128,14 triliun, sedangkan 2018 lebih besar yaitu Rp155,71 triliun," kata pelaksana tugas (plt) Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) KLHK itu.

    Lebih rinci, Bambang menjelaskan, untuk meningkatkan produksi HA, pemerintah akan menjamin kepastian usaha, menerapkan teknik silvikultur intensif (silin) dalam pengelolaan HA, menerapkan reduced impact logging (RIL), mengembangkan multibisnis, evaluasi kinerja, integrasi dengan industri, serta menerapkan multisistem silvikultur. 

    Terobosan juga dilakukan dalam meningkatkan produksi HTI, yakni mengembangkan HTI mini atau hutan tanaman rakyat (HTR). Hal ini ditujukan untuk menyerap tenaga kerja dan usaha kecil menengah. UKM. "HTI dan HTR diarahkan untuk mendukung sektor industri nasional," kata Bambang. 

    Selanjutnya, jenis tanaman hutan berkayu, tanaman budidaya tahunan berkayu maupun jenis lainnya di HTI atau HTR, diarahkan untuk mendukung industri hasil hutan, bioenergi, pangan, obat-obatan, kosmetika, kimia, dan pakan ternak.

    Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia Indroyono Soesilo memprediksi produksi kayu alam relatif tetap pada 2020. Sebaliknya, produksi kayu tanaman meningkat. 

    "Pasokan bahan baku industri pengolahan kayu akan bergeser ke hutan tanaman. Kayu alam hanya akan digunakan untuk produk bernilai tinggi," kata ketua Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia ini. 

    Indroyono juga memprediksi produksi HHBK, bioprospecting, investasi usaha, pemanfaatan hutan alam dan hutan tanaman terus meningkat. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah mengembangkan multiusaha di hutan produksi. "Insentifnya juga tengah digodok," ujarnya.





    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id