Bank BUMN Harus Punya Strategi Bersaing dengan Swasta

    Nia Deviyana - 10 Desember 2019 11:06 WIB
    Bank BUMN Harus Punya Strategi Bersaing dengan Swasta
    Ilustrasi. FOTO: dok MI.
    Jakarta: Pengamat Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Toto Pranoto menilai wacana merger Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) bisa kembali digaungkan untuk memperkuat aset bank pelat merah sehingga bisa bersaing dengan bank swasta. Toto menilai, aset bank BUMN masih terbilang kecil bila dibandingkan dengan bank swasta milik asing.

    Namun, merger tidak bisa asal dilakukan tanpa strategi yang matang. "Misal Bank Mandiri dengan BNI. Asetnya kalau digabung sekitar USD110 miliar," ujar Toto saat dihubungi Medcom.id, Selasa, 10 Desember 2019.

    Sementara untuk PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan PT Bank Tabungan Negara (BTN), menurut Toto, lebih baik tidak diikutkan dalam merger karena sudah memiliki kinerja yang baik sesuai segmentasinya.

    "Ya saya kira perlu strategi berbeda. BRI itu spesifik di segmen pembiayaan mikro-kecil dan bank ini sangat kuat di sektor itu. Jadi tidak perlu ikut di merger, biarkan fokus di segmennya. Sementara BTN lebih khusus lagi di sektor perumahan. Tingkatkan saja kinerjanya sehingga bisa menjadi market leader di sektor perumahan, terutama menunjang program satu juta rumah dari pemerintah," kata dia.

    Adapun selain merger, pemerintah juga merencanakan membentuk holding keuangan. Jika terwujud, aset holding BUMN diproyeksi mencapai lebih dari Rp4.000 triliun. Di ASEAN, aset bank terbesar dimiliki DBS Singapura yakni sekitar Rp5.200 triliun, disusul OCBC senilai Rp4.600 triliun dan UOB sebesar Rp3.600 triliun.

    Holding adalah restrukturisasi perusahaan dengan membentuk satu grup yang menginduk pada salah satu perusahaan BUMN, nilai investasi pemerintah tidak berkurang, dan pengawasan pemerintah semakin diperkuat.

    Kementerian BUMN melihat ada manfaat dari pembentukan holding BUMN. Adapun manfaat dari aspek keuangan yakni pertama, memperbaiki struktur permodalan, melakukan konsolidasi aset, utang dan modal keseluruhan sehingga kapasitas leverage lebih meningkat.

    Kedua, menurunkan cost of capital karena kredit rating secara umum menjadi lebih baik. Ketiga, menciptakan kemandirian keuangan untuk pendanaan yang cukup tanpa bergantung kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

    Manfaat dari sisi operasional yaitu pertama, penyelarasan model bisnis untuk lebih berdaya saing ditingkat regional dan global. Kedua, integrasi mata rantai usaha dari hulu ke hilir yang terputus-putus sebelum ada holding. Ketiga, mencegah duplikasi dan meningkatkan efisiensi operasional BUMN. Keempat, menciptakan sinergi baik secara internal maupun lintas sektoral, baik secara lintas BUMN maupun BUMN-Swasta.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id