Aparatur Negara Ditargetkan Wajib Beli Produk Bulog

    Ilham wibowo - 26 November 2019 16:32 WIB
    Aparatur Negara Ditargetkan Wajib Beli Produk Bulog
    Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.
    Jakarta: Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) menargetkan jutaan aparatur negara baik TNI, Polri, maupun ASN wajib membeli produk pangan Bulog. Lebih dari 50 jenis beras petani lokal bisa dipilih dengan kualitas medium hingga premium melalui e-commerce.

    "TNI, Polri, ASN akan kita raih, akan kita suplai langsung ke rumah," kata Buwas saat meresmikan Panganandotcom di Kompleks Pergudangan Bulog Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa, 26 November 2019.

    Menurut Buwas, upaya ini masuk ke dalam 50 persen dari strategi komersial Bulog di samping 50 persen lainnya menjalankan penugasan negara dalam penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Sosialisasi kualitas beras terus dilakukan agar Bulog kembali mendapatkan kepercayaan dari masyarakat yang akan mengonsumsi.

    "Dulu kenapa Bulog enggan suplai ke Polri karena kualitasnya jelek, harus kita akui dan jadi pembelajaran kami, sekarang saya ada di Bulog dan kami jamin kualitasnya bagus," paparnya.

    Beras komersial Bulog dari petani lokal dengan kualitas premium, medium, dan khusus bervitamin saat ini sudah banyak tersebar di pasar ritel. Penjualannya pun juga mengandalkan Panganandotcom, supermall pangan produk Bulog di aplikasi layanan Shopee.

    "Petani akan punya jaminan produknya diambil, ini jawaban yang kita akan lakukan step by step," tuturnya.

    Aparatur negara yang diwajibkan membeli produk Bulog diproyeksikan menambah jumlah daya serap produksi pangan dalam negeri. Jumlah ASN saja saat ini tercatat mencapai 4,3 juta pegawai.

    "TNI saja ada 600 ribu sekian, lalu Polri 300 ribu sekian, saya kira bisa banyak potensinya, belum ASN-nya," ungkap mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) ini.

    Perluasan pasar beras komersial Bulog juga akan menyasar karyawan di perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah tersebut juga untuk memperkuat daya saing Bulog di industri perberasan dalam negeri.

    Sebagai permulaan, dua BUMN perbankan yakni BRI dan BNI telah meneken perjanjian kerja sama beras untuk pengadaan beras bagi pegawainya. Beras yang digunakan yakni beras komersial yang saat ini porsinya masih sekitar 170 ribu ton dari total target pengadaan beras 2019 sebanyak 1,8 juta ton.

    Menurut dia, untuk bisa terus memperlebar kerja sama dengan seluruh BUMN, Bulog harus mendapat pengakuan bahwa beras yang diproduksi berkualitas baik dengan harga terjangkau.

    "Sementara kepada teman-teman BNI dan BRI ini sudah berhasil diakui, beras yang disediakan Bulog beras dengan kualitas dan mutu yang baik. Kami butuh penilaian bukan karena sesama BUMN karena beras kami selalu diklaim jelek," paparnya.

    Bersama BNI, Buwas menjelaskan kerja sama telah dimulai sejak dua bulan yang lalu lewat penyediaan 25 ribu paket pangan per bulan untuk 25 ribu karyawan. Adapun dengan BRI, Bulog mulai melakukan penyediaan paket pangan sebanyak 40 ribu paket.

    Disasarnya karyawan BUMN itu juga menjadi salah satu solusi perusahaan untuk menyiasati beban keuangan yang dialami. Sebab, Bulog tercatat masih memiliki beban utang hingga Rp28 triliun akibat penugasan pemerintah untuk pengadaan CBP dalam jumlah besar, tetapi penyalurannya tidak didukung dengan kondisi pasar akibat program Bantuan Pangan Non-Tunai.

    "Ini solusi bagaimana mengatasi itu, kita tidak boleh salahkan utang makanya kita bicara beras komersial. Ke depan, kita ingin penghasilan Bulog 50 persen dari komersial dan 50 persen penugasan," ungkapnya.

    Sementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis Bulog Imam Subowo memaparkan pihaknya siap untuk memperbesar jumlah beras komersial Bulog dari saat ini yang hanya 170 ribu ton. Inovasi bisnis yang dilakukan diproyeksikan untuk terus bisa dipercaya masyarakat.

    Adapun beras dijual dalam kualitas medium, premium, dan beras khusus yang harganya disesuaikan dengan mekanisme pasar. Harga yang dipatok pun tidak mesti sesuai dengan harga eceran tertinggi.

    Imam pun menjelaskan pihaknya memilih BUMN sebagai salah satu target pasar beras komersial karena diminta lebih bersinergi antar perusahaan pelat merah. Tak ada alasan menolak lantaran jaminan kualitas produk.

    "Kalau perbankan kita sinergi pinjaman, pegawai BUMN pasti butuh makan, mending beli di Bulog, toh harga kita kompetitif, juga tidak ada keluhan kualitas, jadi tidak ada alasan tidak mau seharusnya," tuturnya.

    Total induk perusahaan yang berada dalam naungan Kementerian BUMN saat ini mencapai 140 dengan jumlah karyawan lebih dari dua juta orang. Pasar tersebut akan sangat potensial bagi Bulog lantaran bisa memasok kebutuhan beras komersial bagi para karyawan perusahaan negara.

    "Saya punya keyakinan BUMN-BUMN akan mau bekerja sama dengan Bulog, saya akan merapat ke semua BUMN," pungkasnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id