AFPI Jelaskan Mekanisme Bunga 0,8% pada Fintech Lending

    Nia Deviyana - 25 September 2019 06:05 WIB
    AFPI Jelaskan Mekanisme Bunga 0,8% pada <i>Fintech Lending</i>
    Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id/Rizal)
    Jakarta: Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menegaskan biaya pinjaman fintech lending ditetapkan maksimal 0,8 persen per hari hanya. Ketentuan ini berlaku untuk pinjaman tunai jangka pendek maksimal 30 hari. 

    Besaran biaya ini tidak lepas dari adanya sejumlah komponen biaya yang termasuk di dalamnya, yakni biaya bunga pemberi pinjaman atau lender, biaya dari penyelenggara platform fintech lending, biaya risk management, dan biaya transaksi untuk pinjaman tunai jangka pendek biasanya berkisar sepertiga dari total biaya pinjaman satu bulan. 

    Wakil Ketua Umum AFPI, Sunu Widyatmoko menjelaskan, besaran biaya pinjaman fintech lending yang terdiri dari komponen biaya ini menyebabkan perhitungan biayanya berbeda dengan institusi keuangan lain. 

    "Biasanya pinjaman tunai jangka pendek untuk fintech lending paling lama 30 hari dengan maksimal pinjaman Rp 3 juta," kata dia melalui keterangan resmi, Selasa, 24 September 2019.

    Sebagai ilustrasi biaya pinjaman untuk Rp500 ribu dengan tenor 20 hari, ditetapkan biaya pinjaman 0,8 persen menjadi sebesar Rp 80 ribu. Jumlah Rp80 ribu ini terdiri dari biaya transaksi Rp 45 ribu, kemudian Rp 35 ribu untuk meng-cover biaya bunga lender, biaya untuk platform, dan biaya risk management.

    "Dengan ilustrasi di atas, dan komponen biaya yang terkandung didalamnya, kita tidak dapat membandingkan biaya pinjaman fintech lending dengan pinjaman KTA bank. Di sinilah perbedaan fintech lending itu sendiri," ujar Sunu.

    Ketua Umum AFPI, Adrian Gunadi mengatakan sebagai mitra dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), AFPI menetapkan kode etik kepada seluruh anggotanya, salah satunya dengan menentukan besaran batas maksimal biaya pinjaman fintech lending.

    "AFPI menerapkan kode etik kepada seluruh anggota yang wajib dipatuhi. Penerapan besaran pinjaman ini untuk memberikan proteksi kepada masyarakat yang mengakses pinjaman dari fintech lending," tutur Adrian.

    Adrian menambahkan untuk biaya pinjaman produktif total biaya pinjamannya jauh di bawah pinjaman tunai jangka pendek, yakni berkisar 14 persen-18 persen per tahun. Menurut dia, biaya pinjaman fintech lending ini dilihat dari risiko dan karakteristik pinjaman itu sendiri.

    AFPI juga memberikan pembatasan maksimal bagi para penyelenggara untuk tidak menerapkan biaya pinjaman berupa beban bunga, denda, administrasi, dan lain-lain sampai hari ke-90. Lebih dari hari ke-90, biaya pinjaman adalah maksimal 100 persen dari pinjaman pokok. Misalnya, pinjaman pokok Rp 1 juta, bila peminjam menunggak lebih dari 90 hari, maka peminjam wajib mengembalikan maksimal Rp 2 juta karena penyelenggara tidak dapat lagi menagih lebih dari itu.

    "Seluruh kebijakan AFPI dalam penerapan ketentuan biaya pinjaman kepada anggota sudah diketahui oleh OJK karena aktivitas fintech lending diawasi baik oleh OJK yang bekerjasama dengan AFPI sebagai mitra OJK," tutur Adrian.

    Per Agustus 2019, tercatat ada 127 fintech P2P lending  yang terdaftar di OJK. Adapun jumlah fintech yang tidak terdaftar di OJK atau ilegal tumbuh lebih subur, hingga September ini, setidaknya terdapat 1.477 pinjaman online yang ditutup oleh Satgas Waspada Investasi. 



    (EKO)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id