OJK: Kepedulian Sosial Milenial Mampu Dongkrak Perbankan Syariah

    Husen Miftahudin - 26 September 2018 12:42 WIB
    OJK: Kepedulian Sosial Milenial Mampu Dongkrak Perbankan Syariah
    Direktur Penelitian, Pengembangan, Pengaturan, dan Perizinan Perbankan Syariah OJK Deden Firman Hendarsyah. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)
    Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis tren peningkatan kepedulian sosial anak muda mampu mendorong pertumbuhan pangsa pasar industri perbankan syariah. Pasalnya, generasi milenial acap memburu ekosistem halal seperti halal food, Islamic fashion, Islamic tourism, hingga umrah dan haji.

    "Tren ke depan ada yang perlu diperhatikan, salah satunya dengan menggabungkan perbankan syariah dengan kepedulian sosial (anak muda). Jika kepedulian semakin tinggi maka ke depan (pertumbuhan perbankan syariah) dapat semakin baik," kata Direktur Penelitian, Pengembangan, Pengaturan, dan Perizinan Perbankan Syariah OJK Deden Firman Hendarsyah dalam Seminar Nasional Perilaku Pasar Keuangan Syariah, di Hotel Shangri-La, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu, 26 September 2018.

    Adapun pangsa pasar industri perbankan syariah hingga saat ini baru sebesar 5,7 persen. Namun demikian, pertumbuhan perbankan syariah pada Juli 2018 melesat 14,6 persen secara tahun ke tahun (year on year/yoy), pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebanyak 12,9 persen, serta pertumbuhan pembiayaan juga kinclong di posisi 11,3 persen.

    Pada kesempatan yang sama, Direktur Bisnis SME dan Komersial BNI Syariah Dhias Widhiyati mengaku potensi pertumbuhan industri perbankan syariah di Indonesia masih sangat besar. Oleh karena itu, industri harus bisa melihat peluang dan tantangan dengan mendorong geliat industri halal.

    "Halal food potensinya capai Rp2.300 triliun, Islamic fashion Rp190 triliun, Islamic tourism Rp135 triliun, haji dan umrah Rp120 triliun, dan potensi edukasi sebanyak Rp40 triliun," tambah Dhias.

    Untuk tantangannya, ungkap dia, industri perbankan syariah harus bisa melakukan pengembangan digital banking.

    "Perubahan gaya hidup anak muda atau kaum milenial menjadi wajib buat industri syariah mengembangkan teknologi digital, salah satunya kolaborasi dengan fintech. Sehingga ke depan bisa menyajikan transaksi cepat, mudah, murah, aman, dan nyaman," jelas Dhias.

    Terakhir, lanjutnya, perbankan syariah harus mengembangkan literasi dan inklusi yang tergolong masih rendah. Ia mencatat literasi di keuangan syariah masih di posisi delapan persen, sementara inklusi sebesar 11 persen.

    "Bandingkan dengan konvensional, literasi perbankan konvensional hingga saat ini sudah 30 persen, sementara inklusi sudah 68 persen," tutup Dhias.

     



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id