Apindo: Serikat Pekerja Jangan Egois

    Ilham wibowo - 23 Januari 2020 10:39 WIB
    Apindo: Serikat Pekerja Jangan Egois
    Direktur Eksekutif Apindo Danang Girindrawardana. FOTO: Medcom.id/Desi Angriani
    Jakarta: Penolakan omnibus law cipta lapangan kerja yang langsung disampaikan serikat pekerja melalui demonstrasi dinilai Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) berlebihan. Mestinya, ruang dialog bisa dimaksimalkan untuk mencapai titik temu yang saling berkeadilan.

    Direktur Eksekutif Apindo Danang Girindrawardana mengatakan serikat pekerja mesti ikut memiliki pemikiran yang visioner terhadap lapangan pekerjaan dari kehadiran industri. Saat ini, industri di Indonesia pertumbuhannya lebih lambat ketimbang jumlah kemunculan angkatan kerja baru per tahun.

    "Kalau tidak ada UU (omnibus law) ini nanti adik-adik kita yang sampai dua juta per tahun itu mau ditampung di mana. Jadi jangan egois hanya memikirkan angkatan kerja yang ada saat ini, tapi perlu juga memikirkan adik-adik kita atau angkatan kerja di tahun-tahun berikutnya ke depan," kata Danang, kepada Medcom.id, Kamis, 23 Januari 2020.

    Mempercepat pertumbuhan industri hanya bisa dilakukan dengan investasi besar baik asalnya dari investor domestik maupun investor asing. Kehadiran omnibus law ini diyakini bisa memberikan kepastian kepada para investor tersebut lantaran menghilangkan tumpang tindih antarperaturan perundang-undangan, efisiensi dan ego sektoral pada regulasi.

    "Setiap tahun kan kita produksi dua juta tenaga kerja baru, pertumbuhan ini harus diserap dunia industri, UU Cipta Lapangan Kerja ini ditargetkan untuk kemudahan bagi industri tumbuh di Indonesia," ungkapnya.

    Penolakan hadirnya omnibus law ini dinilai jauh dari semangat membangun penyerapan tenaga dan mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Poin mengenai upah minimum, alih daya (outsourcing), pekerja asing, pesangon, jam kerja, hingga sanksi tidak akan mengubah struktur kerja yang telah berjalan saat ini.

    "Omnibus law ini sejauh yang saya tahu tidak mengubah struktur tenaga kerja saat ini existing, yang akan diperbaiki dan di susun ulang itu (struktur kerja) yang akan datang, nah bagaimana menciptakan hubungan yang akan datang ini harus dipikirkan baik-baik," paparnya.

    Di masa mendatang, kata Dagang, Indonesia dengan bonus demografi mesti bersiap mengikuti perubahan pola industri 4.0. Talenta pekerja yang spesifik sangat dibutuhkan untuk mencapai produktivitas kerja yang baik serta merealisasikan target investasi.

    "Mesti dipikirkan dari sekarang, contoh jenis lapangan pekerjaan yang muncul dan dibutuhkan karena tuntutan revolusi 4.0, bagaimana lulusan S1 di dunia telematika dan IT ini mereka bisa ditampung di dunia kerja dan bagaimana lulusan SMK di dunia kerja pada saat revolusi industri 4.0 sudah berjalan," tuturnya.

    Serikat pekerja perlu ikut berpikir bahwa ada tantangan yang akan dihadapi industri di Indonesia bila masih mengandalkan regulasi yang ada saat ini. Dukungan dari semua pihak bakal membuat investor domestik maupun luar negeri bisa berkembang.

    "Kalau meraka berkembang penciptaan lapangan kerja akan tumbuh dan serapan tenaga kerja optimal. Kita juga memikirkan angka pengangguran di atas sembilan juta orang itu tidak bisa ditampung dengan regulasi yang ada saat ini dan itu harus dipikirkan," pungkasnya.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id