Penggabungan Cukai Menambah Beban Pelaku Industri

    Arif Wicaksono - 29 September 2019 20:35 WIB
    Penggabungan Cukai Menambah Beban Pelaku Industri
    Ilustrasi. Foto : Medcom/Achmad Zulfikar Fazli.
    Jakarta: Peneliti Ilmu ekonomi Universitas Padjadjaran Bayu Kharisma menilai keputusan pemerintah menaikkan cukai rokok hingga 23 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) 35 persen pada 2020 kurang tepat. Ini karena kenaikan harga jual akan menurunkan penjualan rokok sehingga jumlah industri penghasil rokok yang legal akan menurun, karena berat bagi industri untuk membeli pita cukai.

    Dampak lanjutan yang dapat timbul adalah meningkatnya peredaran rokok ilegal, yang terpusat di daerah-daerah dengan target konsumennya menengah ke bawah. Ia mengingatkan bahwa saat ini rasio harga per bungkus rokok Indonesia dibandingkan dengan PDB per kapita lebih tinggi dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Swiss hingga negara tetangga Malaysia.

    Bayu mengungkapkan rencana kenaikan cukai sudah cukup berat bagi pelaku industri, apalagi jika dibebani dengan simplifikasi dan penggabungan cukai untuk produksi rokok Sigaret Putih Mesin (SPM) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM).

    "Ancaman terhadap petani dan potensi terjadinya PHK menjadi semakin tinggi. Ditambah pula, jika penggabungan SPM dan SKM diterapkan maka akan terjadi potensi oligopoli dan juga monopoli," kata dia, dalam keterangan resminya, Minggu, 29 September 2019.

    Dia mengatakan penggabungan SPM dan SKM akan membuat perusahaan-perusahaan kecil dan menengah akan dipaksa untuk menyesuaikan tarif yang lebih tinggi berdasarkan penggabungan batas jumlah produksi kedua kategori tersebut.

    Persaingan tidak sehat lantas terjadi karena tengah tekanan kenaikan cukai yang sangat tinggi, perusahaan rokok kecil dan menengah terdampak akan dihantam oleh beban cukai tambahan akibat adanya simplifikasi dan penggabungan. Oligopoli dan monopoli terjadi karena dominasi dan arah perdagangan di pasar pada akhirnya akan dikendalikan oleh pemain besar tertentu saja.

    Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soesono mengatakan bahwa meski belum diterapkan, rencana kenaikan cukai telah memberi dampak nyata pada tata niaga bawah.

    Hal ini berupa tekanan dari para pedagang yang memanfaatkan isu kenaikan cukai untuk menekan harga kepada petani. Akibatnya, pembelian semula yang bisa mencapai dua ton menjadi 500 kg. Ia juga memprediksikan bahwa ketika cukai tersebut diterapkan tahun depan tingkat penyerapan panen tembakau akan berkurang.

    Kenaikan tarif cukai rokok bukan satu-satunya tantangan yang diberikan Pemerintah dalam upaya mengontrol sekaligus meningkatkan pendapatan negara. Wacana yang masih terus digulirkan oleh sebagian pihak adalah adanya penerapan simplifikasi struktur tarif cukai dan penggabungan batas jumlah produksi SPM dan SKM.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id