Indef: Prestasi Habibie Bangun BUMN Strategis Harus Dilanjutkan

    Antara - 13 September 2019 08:46 WIB
    Indef: Prestasi Habibie Bangun BUMN Strategis Harus Dilanjutkan
    BJ Habibie. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI
    Jakarta: Wakil Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan prestasi Presiden ketiga BJ Habibie dalam membangun BUMN strategis seperti PT Pindad, PT PAL, dan PTDI harus terus dilanjutkan dalam rangka penguasaan teknologi.

    "BJ Habibie sudah mengetahui itu semua, persoalannya untuk mengimplementasikan cukup berat. Periode 1990-an, BUMN-BUMN strategis seperti Pindad, PT PAL dan PT DI juga mendapatkan dukungan dari pemerintah saat itu karena dianggap ide-ide bagus kedepannya," ujar Eko, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 13 September 2019.

    Dia menambahkan almarhum BJ Habibie merupakan sosok visioner yang artinya sudah mengetahui bahwa kemampuan ke depan yang harus dimiliki oleh bangsa manapun adalah penguasaan teknologi di saat masyarakat Indonesia kala itu belum banyak yang menyadarinya.

    Dampak penguasaan teknologi itu saat ini baru terasa, ketika hanya negara-negara seperti Jerman, Tiongkok, Amerika Serikat dan lainnya yang berhasil menguasai teknologi yang menikmati hasil dari globalisasi. Itu karena mereka memiliki hak paten, riset dan penelitian di bidang teknologi serta produknya yang kemudian menjadi kekuatan mereka sekarang.

    Masalahnya, lanjutnya, adalah adanya hambatan ketika krisis finansial menerjang Indonesia pada 1998. Dengan demikian mau tidak mau berbagai pemangkasan dilakukan, termasuk menimpa BUMN-BUMN strategis yang awalnya mau dijadikan garda terdepan untuk pengembangan teknologi di Indonesia dan terpaksa harus dibatasi pengembangannya.

    "Dulu keputusan pahit ini harus diambil karena Indonesia dilanda krisis finansial 1998, kalau kita telah mengakui bahwa krisis itu sudah berlalu maka sebaiknya ide-ide membangun kembali BUMN-BUMN strategis harus dijalankan kembali," kata Eko.

    Menurut dia semua ini perlu dilakukan karena aspeknya untuk kepentingan strategis yang kalau tidak dikuasai maka Indonesia tidak akan pernah bisa mandiri dan independen terhadap negara-negara lain dari aspek teknologi.

    "Memang harus dimulai kembali ide-ide dari BJ Habibie seperti upaya beliau untuk merintis kembali pembuatan pesawat untuk kebutuhan regional antarpulau dan wilayah di Indonesia dengan kapasitas yang tidak perlu besar seperti pesawat lintas negara, dan harusnya mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan dunia swasta," ujarnya.

    Adapun Presiden ketiga Republik Indonesia BJ Habibie wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, Rabu, 11 September pukul 18.05 WIB. BJ Habibie pernah menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi dan membangun BUMN-BUMN strategis seperti PT Dirgantara Indonesia atau PTDI (dahulu bernama IPTN) pada 1976, kemudian PT PAL pada 1980 dan PT Pindad pada 1983.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id