Antisipasi Inflasi Pangan Jelang Natal dan Tahun Baru

    Ilham wibowo - 04 Oktober 2019 10:50 WIB
    Antisipasi Inflasi Pangan Jelang Natal dan Tahun Baru
    Ilustrasi pasar penjual bahan pangan. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin.
    Batu: Pemerintah daerah diminta ikut mempersiapkan antisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok tiga bulan jelang Natal 2019 dan perayaan Tahun Baru 2020. Kecukupan pasokannya pun perlu dipastikan terpenuhi terutama di wilayah yang memiliki banyak objek wisata.

    Hal tersebut disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita dalam rapat koordinasi nasional barang kebutuhan pokok menjelang di Kota Batu, Jawa Timur, Jumat, 4 Oktober 2019. Sinergi seluruh aparatur pemerintahan perlu dilakukan dalam menjaga kecukupan pasokan dan harga menghadapi hari besar keagamaan nasional (HBKN).

    "Dalam beberapa waktu ke depan, ada potensi kenaikan permintaan bapok pada Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Sementara kondisi cuaca masih belum kondusif untuk produksi pangan nasional. Pemerintah pusat dan daerah perlu melakukan antisipasi kecukupan pasokan bapok di daerahnya masing-masing sejak dini," ungkap Mendag dalam sambutannya.

    Mendag menyampaikan, pihaknya diberi mandat untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok yang dicerminkan tingkat inflasi terkendali, dengan target 3,5 persen. Di sisi lain, pemerintah daerah sangat berkepentingan dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bapok di daerah masing-masing terkait dengan keterjangkauan harga, dan ketersediaan pangan masyarakat, serta kondusifnya iklim usaha bagi pelaku usaha pangan daerah.

    "Sinergi pemerintah pusat, daerah, serta seluruh pelaku usaha pangan yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan. Agar masyarakat dapat memperoleh pangan dengan harga yang terjangkau, tersedia dalam jumlah yang cukup, dan pelaku usaha memperoleh keuntungan yang wajar," ungkapnya.

    Mendag melanjutkan, saat ini pemerintah menghadapi tantangan yang perlu diantisipasi bersama. Salah satunya yaitu inflasi kelompok bahan makanan di 2019 yang cenderung naik dan musim kemarau panjang yang hampir merata di seluruh Indonesia.

    Secara umum, deflasi pada September 2019 (MoM) tercatat sebesar 0,27 persen dan inflasi sepanjang 2019 (ytd) tercatat sebesar 2,2 persen. Meskipun kelompok bahan makanan Agustus 2019 (MoM) mengalami deflasi 1,97 persen, namun secara keseluruhan inflasi sepanjang 2019 (ytd) tercatat sebesar 3,51 persen, tertinggi dibanding kelompok pengeluaran lainnya.

    "Beberapa faktor utama penyebab naiknya inflasi tersebut adalah kenaikan harga bawang putih akibat gangguan pasokan impor dan cabai merah akibat faktor kemarau yang cukup panjang," kata Mendag.

    Menurut Mendag, periode HBKN merupakan periode yang rawan mengalami gejolak harga, khususnya barang kebutuhan pokok akibat faktor peningkatan permintaan dari masyarakat. Hal ini tergambar dari tingkat inflasi bulanan pada puasa, Lebaran serta akhir tahun yang cenderung naik.

    Di sisi lain, kondisi cuaca juga masih belum kondusif untuk produksi pangan nasional. Prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, pada akhir September hingga minggu III Oktober 2019 sebagian besar wilayah di Indonesia masih mengalami tingkat hujan rendah-menengah, khususnya di daerah sentra produksi pangan seperti Sumatra bagian selatan, pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi bagian selatan.

    Secara nasional, rata-rata harga beras pada September 2019 cenderung stabil, hanya naik 0,07 persen dibanding bulan sebelumnya. Dari 82 kota pantauan indeks harga konsumen (IHK), harga beras di 55 kota stabil dan turun (67 persen).

    Kenaikan harga beras di atas satu persen hanya terjadi di 11 daerah. Daerah-daerah yang perlu dicermati adalah Kota Metro yang harganya naik 4,59 persen; Purwokerto naik 3,56 persen; dan Cilacap naik 3,45 persen. Sementara itu, pada September perkembangan harga bapok masih terpantau stabil, bahkan cabai dan bawang sudah cenderung turun dibanding bulan sebelumnya.

    Untuk harga bapok lainnya, daging sapi masih stabil di kisaran Rp116 ribu per kg, minyak goreng curah Rp10.350 per liter atau setara Rp11.500 per kg, dan tepung terigu Rp10.200 per kg. Untuk gula pasir turun 0,36 persen menjadi Rp13.600 per kg, telur ayam ras turun 4,04 persen menjadi Rp23.600 per kg, bawang putih turun 5,51 persen menjadi Rp34.200 per kg, daging ayam ras turun 5,79 persen menjadi Rp31.500 per kg, cabai rawit turun 18,45 persen menjadi Rp57.900 per kg, cabai merah turun 22,83 persen menjadi Rp50.800 per kg, dan bawang merah turun 20,05 persen menjadi Rp21.500 per kg.

    Mendag menambahkan, rakor ini dihadiri perwakilan dinas perdagangan dari seluruh Indonesia. Mendag berharap peran pemerintah daerah dalam meningkatkan koordinasi antarinstansi di daerah, mengawal kelancaran distribusi beras medium Bulog dalam program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) di pasar-pasar rakyat pada wilayah masing-masing.

    "Diharapkan pemerintah daerah dapat membantu kelancaran pelaksanaan rapat koordinasi daerah dan penetrasi pasar menjelang HBKN. Hal ini untuk menegaskan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat dalam menjaga kecukupan stok dan pasokan bapok di pasar untuk menjaga psikologis masyarakat agar tetap kondusif," pungkas Mendag.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id