OJK Pantau Intensif Rencana Penyehatan Jiwasraya

    Husen Miftahudin - 19 Desember 2019 21:41 WIB
    OJK Pantau Intensif Rencana Penyehatan Jiwasraya
    Asuransi Jiwasraya. Foto : MI/Ramdani.
    Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku terus memantau upaya Rencana Penyehatan Keuangan (RPK) yang telah disampaikan PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Langkah tersebut dilakukan otoritas melalui laporan realisasi RPK yang disampaikan manajemen Jiwasraya secara bulanan dan pertemuan rutin.

    Salah satu rencana penyehatan yang telah dilaksanakan Jiwasraya adalah pembentukan anak perusahaan PT Asuransi Jiwasraya Putra. Rencana ini pun sudah ditindaklanjuti OJK dengan mengeluarkan izin usaha.

    "Terkait rencana penyehatan pembentukan anak perusahaan PT Asuransi Jiwasraya Putra, OJK telah mengeluarkan izin usaha dan terus melakukan pemantauan persiapan operasionalnya," kata juru bicara OJK Sekar Putih Djarot dalam keterangan tertulis, Kamis, 19 Desember 2019.

    Sementara untuk langkah RPK lainnya, OJK mendorong manajemen Jiwasraya untuk dapat merealisasikanya sesuai jangka waktu yang telah ditetapkan. "Termasuk memperoleh persetujuan dari pemegang saham (Kementerian BUMN) atas masing-masing langkah yang telah ditetapkan," tegas Sekar.

    Terhadap pemenuhan kewajiban pemegang polis saving plan yang telah jatuh tempo, OJK juga mengklaim telah memantau opsi penyelesaian yang dilakukan Jiwasraya. Dalam rencananya, Jiwasraya memberikan opsi roll over polis atau memperpanjang kontrak dengan iming-iming tingkat bunga tujuh persen per tahun netto.

    "Bagi yang tidak ingin melakukan roll over, Jiwasraya memberikan opsi dengan memberikan bunga pengembangan efektif sebesar 5,75 persen per tahun netto."

    OJK juga meminta bank-bank partner untuk melakukan komunikasi secara intensif kepada nasabah yang menjadi pemegang polis saving plan.

    Terakhir, OJK mengingatkan direksi Jiwasraya untuk lebih memperhatikan implementasi tata kelola yang baik, pengelolaan manajemen risiko yang lebih baik, dan melakukan kehati-hatian investasi yang didukung dengan pemanfaatan teknologi.

    "Selain itu, Jiwasraya harus senantiasa berkoordinasi dan melaporkan kepada OJK serta pemegang saham (Kementerian BUMN)," tutup Sekar.

    Jiwasraya membutuhkan Rp32,89 triliun agar mencapai rasio Risk Based Capital (RBC) minimal 120 persen. RBC merupakan pengukuran tingkat kesehatan finansial suatu perusahaan asuransi, dengan ketentuan OJK yang mengatur minimal batas RBC sebesar 120 persen.

    Kebutuhan ini disebabkan 95 persen dana milik Jiwasraya ditempatkan di saham yang berkinerja buruk. Jiwasraya melakukan investasi hanya demi mengejar keuntungan tinggi.

    Kegagalan Jiwasraya menjalankan prinsip kehati-hatian dalam berinventasi ini berujung pada pembayaran polis. Kerugian negara dari kasus gagal polis ini ditaksir mencapai Rp13,7 triliun.

    Jiwasraya juga disebut menempatkan dana reksa sebanyak 59,1 persen senilai Rp 14,9 triliun dari aset finasial. Hanya dua persen aset itu dikelola manager investasi dengan kinerja baik. Sementara itu, 98 persen dikelola oleh manajer investasi dengan kinerja buruk.

    Terdapat empat alternatif penyelamatan Jiwasraya. Mulai dari strategic partner yang menghasilkan Rp5 triliun, inisiatif holding asuransi Rp7 triliun, menggunakan skema finansial reasuransi Rp1 triliun, dan sumber dana lain dari pemegang saham Rp19,89 triliun. Jadi, total dana yang dihimpun dari penyelamatan tersebut Rp32,89 triliun.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id