Laba 2019 Anjlok, BTN Beri Penjelasan ke DPR

    Antara - 18 Februari 2020 19:41 WIB
    Laba 2019 Anjlok, BTN Beri Penjelasan ke DPR
    Direksi BTN melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI di Senayan, Jakarta, Selasa. Foto: dok ANTARA
    Jakarta: PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatat pada 2019 lalu, laba bersih hanya mencapai Rp209 miliar. Angka ini turun jauh hingga 92,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya Rp2,81 triliun.

    Manajemen bank spesialis pembiayaan perumahan ini pun menjelaskan anjloknya laba bersih kepada anggota DPR saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI.

    Direktur Utama BTN Pahala N Mansury kepada anggota DPR menjelaskan bahwa pada September 2019 rasio kredit bermasalah (net performing loan/NPL) perseroan menyentuh 3,5 persen. Pada akhir tahun, dengan penyesuaian kolektabilitas, NPL meningkat menjadi 4,7 persen.

    "NPL meningkat terutama karena diperlukan penyesuaian kolektabilitas karena memang ada banyak nasabah yang kami lihat tidak memenuhi kriteria untuk bisa dikategorikan sebagai nasabah performing loans atau kolektabilitasnya 1 dan 2. Dengan adanya penyesuaian tersebut, sehingga total pencadangan yang perlu dilakukan BTN itu meningkat menjadi Rp3,7 triliun. Tentu ini menyebabkan total laba yang bisa dibukukan BTN tahun lalu menjadi hanya sebesar Rp209 miliar," ujar mantan Dirut Garuda Indonesia itu, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 18 Februari 2020.

    Menurut Pahala, dengan meningkatnya rasio NPL dan adanya penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71, BTN harus meningkatkan alokasi dana untuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atau CKPN.

    "Jadi kalau sebelumnya secara rata-rata total pencadangan atau CKPN yang dibentuk oleh BTN itu Rp1 triliun sampai Rp1,5 triliun, dengan adanya penerapan PSAK tersebut maka pencadangan kami memang perlu ditingkatkan," jelasnya.

    Dirinya pun optimistis pada 2020 dapat mengembalikan BTN ke "jalurnya" setelah pada 2019 laba bank spesialis pembiayaan perumahan itu anjlok. "Kami memiliki optimisme, tahun ini laba bisa kembali ke tingkat laba tahun sebelumnya yakni Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun," ujar Pahala.

    Pahala menilai, perjalanan berat yang dilalui BTN sepanjang tahun lalu cukup menjadi historical experience dan ke depan ia meyakini kondisi profitabilitas perusahaan akan meningkat.

    Bersama direksi baru lainnya yang ditunjuk November tahun lalu, ia juga optimistis dapat menjaga permodalan dan likuiditas perseroan. Untuk permodalan sendiri, lanjut Pahala, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) BTN masih sangat cukup yaitu di atas 18 persen.

    "Di akhir tahun lalu dan awal tahun ini kami sudah melakukan berbagai inisiatif permodalan, termasuk kerja sama dengan Sarana Multigriya Finansial (SMF) untuk mendapatkan permodalan tier 2 tambahan sebesar Rp3 triliun dan sudah disetujui juga oleh OJK sehingga memungkinkan kami memiliki permodalan yang kuat. Total ekses likuiditas yang kami miliki juga mencapai lebih dari Rp13 triliun sampai kadang-kadang mendekati Rp15 triliun. Kami yakini kondisi likuiditas kami justru bahkan membaik," kata Pahala.

    Dana Pihak Ketiga

    Pahala menceritakan, pada akhir 2019, BTN menurunkan Dana Pihak Ketiga (DPK) untuk menurunkan biaya dana perseroan. Saat itu, banyak biaya dana yang cukup mahal namun sifatnya jangka pendek.

    "Contohnya ada Rp3 triliun sampai Rp4 triliun dana yang berasal dari institusi dengan produk giro tetapi harus dibayar antara 6-8 persen padahal giro tersebut hanya bertahan di BTN sekitar satu bulan saja. Karena kita memiliki likuiditas yang sangat baik, bagaimana kita turunkan biaya dana ini, dengan ya sudah kita tidak usah terlalu agresif ambil dana jangka pendek dan justru berupaya turunkan biaya dana," ujarnya.

    Dampaknya, pada Januari terlihat realisasi biaya dana BTN turun 15 hingga 20 basis poin dibandingkan biaya dana yang harus dibayarkan pada akhir 2019 lalu. Menurut Pahala, hal itu merupakan strategi perseroan yang diambil untuk memperbaiki kondisi profitabilitas sambil terus menjaga likuiditas.

    Fokus BTN ke depan, lanjut Pahala, yaitu mengembangkan bisnis transaksional dengan mengambil dan memperkenalkan berbagai produk, termasuk mobile banking BTN versi terbaru.

    "2019 lalu, rasio dana murah BTN mencapai 43 persen, jadi 57 persen itu merupakan dana mahal atau deposito. 2018 dana murah juga 43 persen, jadi realtively flat lah. Kita harapkan di 2020 akan naik dari 43 pesen jadi 45 mendekati 46 persen dengan kita kembangkan produk tabungan, aktivasi nasabah, introduce mobile banking baru, kita kejar program EDC (Electronic Data Capture) untuk bisa masuk ke merchant-merchant. Dari total transaksi mobile banking dan ATM yang ada menunjukkan peningkatan tapi tentunya disiplin baru bagaimana kita kembangkan bisnis trasaksional untuk bisa dapatkan dana murah ini, harus terus kita tingkatkan. Ini betul-betul jadi program kami di 2020," ujar Pahala.

    Tahun ini, BTN menargetkan pertumbuhan kredit meningkat hingga 10 persen, sedangkan pertumbuhan dana pihak ketiga mencapai 13-14 persen dengan tingkat NPL terjaga di kisaran 3,5 persen.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id