Imbas Korona, Maskapai Bakal Dapat Insentif 21%

    Media Indonesia - 14 Februari 2020 08:06 WIB
    Imbas Korona, Maskapai Bakal Dapat Insentif 21%
    Ilustrasi. Foto: dok MI.
    Jakarta: Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pemerintah tengah menyiapkan skema insentif kepada maskapai penerbangan, maksimal 21 persen, untuk menutupi kerugian akibat penundaan sementara penerbangan dari/ke Tiongkok sejak 5 Februari lalu.

    "Jadi, hasil diskusi kemarin, insentif untuk penerbangan domestik itu sebesar 21 persen. Bantuk insentifnya itu untuk penerbangan (flight)," ujar Menhub Budi Karya di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis, 13 Februari 2020.

    Insentif sebesar 30 persen juga disiapkan untuk penerbangan ke luar negeri, seperti ke negara-negara di Benua Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

    Budi mengatakan keputusan pemberian insentif, baik untuk penerbangan domestik maupun internasional, masih dalam tahap pembicaraan antarkementerian. Pemikiran yang saat ini berkembang, sambungnya, insentif itu dalam bentuk pengurangan kewajiban maskapai dalam menyetor penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

    "Kita nanti ada rapat bersama Kemenkeu, Kemenhub, dan Kemenpar. Bentuk insentifnya apa, apakah pengurangan PNBP atau apakah pengurangan biaya lepas landas? Nanti dibahas di situ," ujar Budi.

    Jika semua kementerian menyetujuinya, rencananya usulan skema insentif itu akan dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo pekan depan.

    "Jadi tim ini masih kerja, baru rapat satu putaran. Akhir minggu ini atau awal minggu depan difinalkan, baru kita laporkan ke Presiden," ungkap Budi.

    Hilang USD2,8 Miliar

    Dalam kesempatan berbeda, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyebut potensi kerugian di sektor pariwisata akibat berkurangnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) asal Tiongkok ke Indonesia mencapai USD2,8 miliar dalam setahun.

    Dalam catatannya, wisman asal Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia rata-rata mencapai dua juta orang per tahun.

    "Average spending per arrival (rata-rata pengeluaran per kunjungan) wisatawan Tiongkok USD1.400. Dengan jumlah dua juta wisman dan nilai tukar USD14 ribu per USD maka potensi kehilangannya mencapai USD2,8 miliar," kata Wishnutama.

    Angka itu, kata dia, hanya merupakan dampak langsung yang dirasakan sektor pariwisata akibat berkurangnya kunjungan wisman asal Tiongkok. "Itu belum termasuk dari menurunnya tren perjalanan masyarakat dari negara lain," jelasnya.

    Mewabahnya virus korona dalam beberapa waktu terakhir mendorong banyak negara, termasuk Indonesia, menerbitkan kebijakan penghentian sementara bebas visa dan larangan pendatang atau penerbangan dari dan ke Tiongkok. Hal itu merupakan salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk melindungi warga negaranya dari risiko tertular virus mematikan tersebut.




    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id