Kebijakan B20 Menyelamatkan Neraca Dagang RI

    Husen Miftahudin - 13 Januari 2020 16:40 WIB
    Kebijakan B20 Menyelamatkan Neraca Dagang RI
    B20. Foto : Medcom/Suci.
    Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyatakan perkembangan neraca perdagangan di Desember 2019 mengalami perbaikan signifikan. Maklum, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada November 2019 lalu neraca dagang RI terjadi defisit sebanyak USD1,33 miliar.

    Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan kebijakan pemerintah terkait kewajiban penggunaan biodiesel 20 persen atau B20 yang diluncurkan pada pertengahan 2018 mulai mampu menekan angka impor. Impor minyak dan gas (migas) berangsur mengalami penurunan.

    "Beberapa indikator impor juga membaik, khususnya dari sisi migas. Karena kita melihat dampak dari kebijakan B20 ini tentunya mengurangi negara untuk melakukan impor migas," ujar Dody di Mahkamah Agung (MA), Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin, 13 Januari 2020.

    Meskipun demikian, Dody masih enggan mengungkap lugas angka neraca perdagangan Desember 2019. Namun menurut dia, perkembangannya menunjukkan ke arah positif.

    "Kita belum melihat data awal untuk trade balance. Tapi kalau melihat perkembangan sampai angka ekspor triwulan III-2019 kemarin cukup positif," tuturnya.

    Bank sentral optimistis pergerakan neraca perdagangan Desember 2019 membaik, pun berharap surplus. Sebab dari eksternalnya mengalami perbaikan signifikan.

    "Beberapa indikator kita untuk manufaktur juga positif, ini memberikan confidence sebenarnya dari trade balance kita. Mudah-mudahan angkanya bisa surplus, meskipun kita belum tentu melihat surplus yang meningkat," ucap Dody.

    Pemerintah terus berupaya mengurangi impor migas dengan mengeluarkan mandatori atau kewajiban penggunaan biodiesel. Paling anyar, Presiden Joko Widodo meluncurkan kewajiban penggunaan B30 pada akhir 2019 lalu.

    Bahkan, Kepala Negara juga menginginkan untuk mengakselerasi peningkatan kadar menjadi B40 di 2020 dan berlanjut ke B50 di 2021 dan B100. "Bagi saya, enggak cukup B30. Saya perintahkan lagi tahun depan B40. Lalu di 2021 B50," kata Jokowi di SPBU Pertamina di Jalan MT Haryono, Jakarta Timur, Senin, 23 Desember 2019.

    Terkait kewajiban penggunaan B30, PT Pertamina (Persero) mengkalkulasi penghematan devisa negara hingga Rp63 triliun. Penghematan tersebut diakibatkan oleh berkurangnya impor BBM jenis solar.

    Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menerangkan jumlah tersebut lebih besar dibanding ketika penerapan B20. Kebijakan B20 di tahun ini saja diklaim mampu menghemat devisa sebesar Rp43 triliun. Nicke pun optimistis di 2020, B20 bisa tersalurkan ke seluruh Indonesia.
     
    "Manfaat yang dihasilkan di 2019 ada penghematan devisa Rp43 triliun, dengan B30 naik jadi Rp63 triliun," kata Nicke di SPBU Pertamina di Jalan MT Haryono, Jakarta Timur, Senin, 23 Desember 2019.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id