Penumpang MRT Disubsidi Rp560 Miliar hingga Akhir 2019

    Desi Angriani - 22 November 2019 12:15 WIB
    Penumpang MRT Disubsidi Rp560 Miliar hingga Akhir 2019
    Ilustrasi pengguna MRT. FOTO: MI/Pius Erlangga.
    Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan subsidi senilai Rp560 miliar bagi penumpang MRT Jakarta. Jumlah itu setara dengan menyubsidi Rp22 ribu per penumpang untuk satu kali perjalanan.

    Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi PT MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan public service obligation/PSO itu diberikan sejak MRT beroperasi pada 1 April hingga Desember 2019.

    "Karena itu 76 persen itu buat penumpang dengan subsidi Rp560 miliar dari 1 April sampai Desember," katanya dalam kelas Fellowship MRT Jakarta di Gedung Wisma Nusantara, Jakarta, Jumat, 22 November 2019.

    Melalui subsidi tersebut, penumpang hanya membayar tarif keekonomian sebesar Rp8.000 untuk satu kali perjalanan. Padahal semestinya satu penumpang dikenakan tarif Rp30 ribu. Selisih biaya sebesar Rp22 ribu per penumpang tersebut ditanggung oleh Pemprov DKI.

    Landasan skema subsidi tarif MRT dihitung berdasarkan biaya sarana dibagi dengan ekspektasi penumpang setahun. "Rata-rata Anda bayar Rp8 ribu dan berarti Anda disubsidi Rp22 ribu," jelas dia.

    Tuhiyat mengungkapkan komponen pendapatan MRT terdiri dari subsidi pemprov DKI sebesar 58 persen atau Rp560 miliar, pendapatan farebox atau tiket penumpang sebesar 18 persen atau Rp180 miliar, dan non farebox sebesar 24 persen atau setara Rp225 miliar.

    Adapun dari komponen pendapatan tersebut, PT MRT Jakarta membiayai operasional perusahaan melalui iklan, ritel, hingga hak nama (naming right) di stasiun. Untuk naming right, stasiun Bundaran HI akan dibanderol dengan harga paling tinggi lantaran berada di pusat kota.

    "Kalau dirata-ratakan selama operasi ini  bayarannya per orang Rp8.000. Dari sana kalau jumlahnya 90 ribu penumpang per hari maka melebihi target 60 ribu penumpang atau 18 persen yaitu Rp180 miliar," tambahnya.

    Saat ini produk UMKM berupa fesyen, kuliner, dan kriya turut mewarnai stasiun MRT Lebak Bulus, stasiun MRT Fatmawati dan stasiun MRT Dukuh Atas. Komponen tersebut hanya berkontribusi sebesar satu persen terhadap pendapatan MRT.

    "Hanya satu persen tapi hebohnya luar biasa. Dan justru menarik jumlah penumpang," pungkas dia.

    Adapun tujuh komponen operasional yang harus disubsidi pemerintah ialah biaya prasarana, biaya modal fasilitas, biaya SDM, biaya pajak, retribusi, PNBP, serta margin 10 persen dari pendapatan.

    Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan menyatakan jika dana subsidi MRT 2019 bersisa atau menjadi Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) bisa dimanfaatkan untuk membiayai Belanja Daerah dan/atau Pengeluaran Pembiayaan Daerah.

    "SILPA positif ini perlu dialokasikan untuk menunjang program-program pembangunan di daerah," tulis keterangan dalam laman Ditjen Perimbangan Keuangan Kemenkeu.

     



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id