BI Pangkas Proyeksi Kredit Imbas Korona

    Desi Angriani - 29 Februari 2020 15:55 WIB
    BI Pangkas Proyeksi Kredit Imbas Korona
    Kepala Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede. Foto: Medcom.id/Desi Angriani.
    Bandung: Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan kredit imbas dampak penyebaran virus korona terhadap ekonomi dalam negeri. Proyeksi pertumbuhan kredit turun dari sebelumnya 10-12 persen menjadi 9-11 persen.

    Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI IGP Wira Kusuma mengatakan pertumbuhan kredit tak terlepas dari kebijakan bunga acuan maupun pertumbuhan ekonomi. Karena itu, bank sentral memutuskan memangkas proyeksi kredit lantaran pertumbuhan ekonomi 2020 juga dikoreksi turun.

    "Memang kita sudah turunkan suku bunga, tapi kemudian ada dua komponen mempengaruhi pertumbuhan kredit yakni pertumbuhan ekonomi, sisi demand kredit belum kuat, sehingga apa yang bisa tempuh perlu di lengkapi dengan pertumbuhan ekonomi yang juga bagus," katanya dalam pelatihan wartawan Bank Indonesia di The Trans Luxury Hotel, Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 29 Februari 2020.

    Wira berharap stimulus fiskal yang dikeluarkan pemerintah dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, reformasi struktural yang sudah berjalan diyakini bakal meningkatkan demand kredit sehingga berimbas pada peningkatan volume kredit.

    "Mungkin dari stimulus fiskal bisa gerakkan pertumbuhan ekonomi dari sisi fiskal," imbuh dia.

    Kepala Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede menambahkan kinerja fiskal perlu didukung oleh kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan. Sebab, pertumbuhan ekonomi  dapat tercapai melalui kebijakan fiskal dan moneter maupun reformasi struktural secara berkelanjutan.

    "Transmisi suku bunga bisa memberikan stimulus, jadi seharusnya orang mulai konsumsi, termasuk kepada korporasi, karena biaya untuk ekspansi menjadi lebih murah," ujarnya.

    Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan revisi perkiraan pertumbuhan kredit ini karena ada pengaruh jangka pendek penyebaran virus korona terhadap perekonomian Indonesia. Risiko ini membuat bank sentral merevisi pertumbuhan ekonomi 2020 menjadi lebih rendah di kisaran 5,0-5,4 persen.

    Namun demikian, pertumbuhan kredit 2021 diprakirakan kembali meningkat pada kisaran 10-12 persen lantaran didorong oleh kenaikan pertumbuhan ekonomi 5,2-5,6 persen. Kemudian DPK pada 2020 dan 2021 diprakirakan tetap tumbuh dalam kisaran 8-10 persen.

    "Bank Indonesia tetap menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait sehingga dapat tetap menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong fungsi intermediasi perbankan," ungkap Perry dalam jumpa pers di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, 20 Februari 2020.

    Adapun stabilitas sistem keuangan tahun lalu terjaga. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Desember 2019 yang tinggi yakni, 23,31 persen, dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang tetap rendah yakni 2,53 persen (gross) atau 1,18 persen (net).

     



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id