Sektor Properti Diminta Waspada Gejolak Ekonomi Global di 2019

    Husen Miftahudin - 17 Desember 2018 13:24 WIB
    Sektor Properti Diminta Waspada Gejolak Ekonomi Global di 2019
    Menteri Keuangan Sri Mulyani. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)
    Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani meminta pelaku usaha sektor properti mewaspadai gejolak perekonomian global di tahun depan. Ketidakpastian yang membelenggu ekonomi global mengancam pemulihan di seluruh sektor, tak terkecuali properti.

    "Selain masalah confidence terhadap pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan, kita juga melihat berbagai tren yang harus kita waspadai. Di antaranya suku bunga dan liquidity tightening (pengetatan likuiditas)," ujar Sri Mulyani dalam acara Property Outlook 2019 di Kementerian Keuangan, Jalan Dr Wahidin Raya, Jakarta Pusat, Senin, 17 Desember 2018.

    Menurutnya, sektor properti paling sensitif terhadap suku bunga, inflasi, serta pengetatan likuiditas. Apalagi The Federeal Reserve (The Fed) memberi sinyal untuk menaikkan suku bunganya pada akhir tahun ini dan tahun depan.

    "Jadi sektor properti sangat erat kaitannya dengan stabilitas makroekonomi dan monetary policy. Ini adalah sesuatu yang harus diwaspadai karena 2018 diwarnai dinamika yang tidak mudah mengenai nilai tukar, suku bunga yang cenderung meningkat, dan likuiditas di tingkat global yang cukup ketat," bebernya.

    Kata Sri Mulyani, Bank Indonesia (BI) sudah merespons melalui kebijakan moneter campuran demi melindungi sektor properti dari terpaan dan ancaman gejolak ekonomi global tahun depan. Sebagai otoritas moneter, BI terus melakukan upaya untuk menstabilkan nilai tukar, likuiditas, maupun suku bunga.

    Berkaca pada pascakrisis moneter yang terjadi pada 2008/2009, jelasnya, bank sentral mengeluarkan kebijakan quantitative easing atau pelonggaran kuantitatif. Kebijakan ini untuk mencegah penurunan suplai uang.

    Selain itu, otoritas juga terus menurunkan suku bunga acuannya hingga mendekati nol. Kondisi demikian membuat harga dan demand properti tumbuh.

    "Krisis moneter yang terjadi pada 2008/2009 karena bubble dan restricted yang eksesif menyebabkan semua harga properti jatuh. Maka dia dipompa lagi dengan melakukan injeksi quantitative easing dan menurunkan suku bunga mendekati nol, sehingga harga-harga properti dan permintaan terhadap properti bisa meningkat lagi," pungkas Sri Mulyani.

     



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id