Impor Jagung Demi Memenuhi Kebutuhan Nasional

    Eko Nordiansyah - 21 Februari 2019 14:03 WIB
    Impor Jagung Demi Memenuhi Kebutuhan Nasional
    Peneliti Visi Teliti Saksama Nanug Pratomo (berdiri). (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)
    Jakarta: Peneliti Visi Teliti Saksama Nanug Pratomo menilai langkah pemerintah untuk mengimpor jagung tepat. Pasalnya kebutuhan jagung dalam negeri, khususnya untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak, belum bisa seluruhnya dipenuhi oleh produksi dari jagung lokal.

    "Selama produksi jagung kita belum memenuhi kebutuhan dalam negeri ya masih susah. Impor jagung masih dibutuhkan sebagai upaya untuk pemenuhan konsumsi jagung domestik, terutama untuk pakan," kata dia di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Februari 2019.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS), impor jagung selama 2018 mencapai 737.228 ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya 517.419 ton. Namun impor jauh lebih rendah dibandingkan 2014 yang mencapai 3,24 juta ton, 2015 mencapai 3,26 juta ton, dan 2016 sebesar 1,13 juta ton.

    Menurutnya, jumlah peternak baik untuk skala industri besar maupun peternak kecil terus mengalami peningkatan. Oleh karena itu, kebutuhan jagung dalam negeri terus mengalami peningkatan, yang pada akhirnya impor menjadi solusi guna memenuhi kebutuhan yang ada.

    Dirinya menjelaskan produksi jagung dalam negeri memiliki kadar air yang tinggi hingga di atas 15 persen. Padahal semakin rendah kadar air yang ada dalam produksi jagung yang ada, maka kualitasnya akan semakin baik.

    Baca juga: [Cek Fakta] Jokowi: Impor Jagung Turun - 2014 Impor 3,5 Juta Ton, 2018 Impor 180 Ribu Ton

    Tak hanya itu, Nanug menambahkan, rantai distribusi untuk produksi jagung lokal juga terbilang panjang dibandingkan jagung impor. Hal ini menyebabkan harga untuk jagung lokal menjadi lebih mahal jika dibandingkan dengan jagung impor.

    "Rantai pasokan jagung juga panjang, ada petani, pengepul. Pengepul selalu jadi persoalan di komoditas kita baru masuk ke pedagang besar yang distribusikan ke pakan maupun makanan. Dari situ baru ke pengecer, baru masuk ke tingkat konsumen," pungkas dia.

    Berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementan, produksi jagung dalam lima tahun terakhir meningkat rata-rata 12,49 persen per tahun. Itu artinya, 2018 produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK). Hal ini juga didukung oleh data luas panen per tahun yang rata-rata meningkat 11,06 persen, dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42 persen (BPS, 2018).

    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id