Jasindo Rambah Asuransi Budidaya Udang dan Perikanan

    Husen Miftahudin - 10 Februari 2020 10:02 WIB
    Jasindo Rambah Asuransi Budidaya Udang dan Perikanan
    Ilustrasi. Foto: dok MI.
    Jakarta: PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau Jasindo menerbitkan Asuransi Usaha Budidaya Udang (AUBU). Asuransi ini merupakan tindak lanjut Konsorsium AUBU yang dibentuk Jasindo bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), serta industri asuransi kerugian umum.

    Direktur Pengembangan Bisnis Asuransi Jasindo Sahata L. Tobing mengatakan asuransi budidaya udang menjamin keberlangsungan usaha petambak udang. Ini penting mengingat pengelolaan lahan tambak berpotensi besar terhadap risiko gagal panen.

    "Lini usaha yang mereka jalani akan terlindungi ketika terjadi risiko kematian udang yang menyebabkan kegagalan panen. Manfaat utama lainnya adalah petambak bisa mendapat kepastian jaminan modal biaya produksi untuk budidaya selanjutnya," ujar Sahata dalam keterangan tertulis, Senin, 10 Februari 2020.

    Asuransi udang ini juga menjadi amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam. "Asuransi Jasindo ditunjuk sebagai Ketua Konsorsium mengingat pengalamannya dalam menjalankan asuransi program pemerintah," lanjutnya.

    Selain itu, Jasindo bersama KKP juga meluncurkan Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil (APPIK). Asuransi ini merupakan program pemerintah dengan premi 100 persen ditanggung pemerintah.

    Rate premi AUBU ditetapkan tiga persen per siklus (4-5 bulan), sedangkan rate premi APPIK bervariasi sesuai komoditi ikan yang diasuransikan. Biaya administrasi dikenakan hanya untuk polis dan bea materai.

    Petambak udang bakal mendapatkan perlindungan sesuai dengan biaya ongkos produksi atau modal yang diajukan menjadi nilai pertanggungan. Sedangkan nilai pertanggungan APPIK ditetapkan per komoditas yakni, ikan patin Rp3 juta, nila payau Rp5 juta, nila tawar Rp4,5 juta, bandeng Rp3 juta, polikultur Rp7,5 juta, udang Rp7,5 juta, dan lele Rp4,5 juta.

    AUBU ditujukan untuk petambak semi itensif sampai dengan super intensif baik vaname maupun windu. "Untuk petambak dengan teknologi sederhana bila ingin mengikuti asuransi AUBU, maka pendaftaran harus dikoordinir oleh Dinas Kelautan dan Perikanan di daerah setempat," ungkap Sahata.

    Alur pendaftaran dengan cara menyerahkan dokumen, mengisi formulir, survei mitigasi risiko, membayar premi asuransi, dan menerima polis asuransi. Dokumen pendukung yang diperlukan untuk mendaftar berupa formulir pendaftaran, fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan sertifikat Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).

    "Sementara untuk klaim, pelaporan dan proses bisa diajukan dalam waktu 3x24 jam setelah musibah terjadi," jelas dia.

    Terkait pengajuan klaim, tertanggung wajib melaporkan kepada penanggung melalui sarana komunikasi tercepat disertai foto-foto kerusakan. Hasil survei klaim akan dituangkan dalam bentuk berita acara survei klaim yang ditandatangani tertanggung, petugas pendamping yang berasal dari Dinas Kelautan dan Perikanan setempat, serta petugas klaim asuransi.

    "Dengan Asuransi Usaha Budidaya Udang, budidaya aman, premi ringan, usaha menjadi lancar," tutup Sahata.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id