Ekonomi Global Diyakini Takkan Resesi di 2020

    Angga Bratadharma - 09 Desember 2019 12:41 WIB
    Ekonomi Global Diyakini Takkan Resesi di 2020
    Chief Economist BNI Ryan Kiryanto. Foto: Medcom.id/Angga Bratadharma.
    Labuan Bajo: Perang dagang yang sedang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok telah memberikan efek negatif berupa perlambatan ekonomi bagi kedua negara. Tidak hanya itu, dampak perang dagang juga berimbas terhadap hal lain seperti merusak keseimbangan perdagangan hingga menghambat pertumbuhan ekonomi dunia.

    "Di 2020 ekonomi global tidak akan terjadi resesi. Beberapa negara mengalami perbaikan ekonomi di 2020, kecuali di Tiongkok," ungkap Chief Economist BNI Ryan Kiryanto, dalam Pelatihan Wartawan Bank Indonesia, di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin, 9 Desember 2019.

    Menurutnya pertumbuhan ekonomi AS yang mencapai dua persen pada kuartal terakhir terbilang bagus seiring situasi dan kondisi ekonomi global. Sedangkan ekonomi Tiongkok, lanjut Ryan, tidak dipungkiri sedang mengalami perlambatan yang cukup dalam. Bahkan, Ryan meramal, rebalancing perekonomian Tiongkok akan memakan waktu lama.

    "Karena Tiongkok ini 'nina bobo'-nya lama dalam hal ekspor. Kalau ekonomi dunia bagus maka negara yang orientasinya ekspor seperti Jepang, Korsel, dan Tiongkok akan bagus. Juara ekspor itu Tiongkok karena dia bisa buat dari kw satu sampai kw lima. Tiongkok bisa buat segalanya. Tapi, kalau ekonomi dunia melemah ya kena," ucap Ryan.

    Sementara untuk Indonesia, Ryan melihat tidak ada dampak signifikan mengingat skala Indonesia tidak berorientasi pada ekspor dan bukan bagian dari mata rantai global value chain. Menurutnya kondisi tersebut menguntungkan Indonesia sehingga tidak mengganggu aktivitas perekonomian, terutama didukung oleh konsumsi rumah tangga.

    "Kebetulan Indonesia relatif tidak banyak terlibat dalam ekspor. Kita juga minim terlibat dalam global value chain. Ada unsur luck di sini. Jadi ketika Jepang dan Tiongkok melemah kita terisolasi. Tapi bukan berarti kebal. Maka kita bisa tumbuh kurang lebih lima persen," tegas Ryan.

    Di sisi lain, Tiongkok percaya jika Beijing dan Washington mencapai kata sepakat terkait perdagangan maka sewajarnya ada langkah untuk menghentikan beberapa tarif pada barang-barang tertentu. Namun sayangnya, ketidakpastian kembali menghantui kedua negara dan lagi-lagi hal tersebut memicu guncangan di pasar keuangan.

    "Tiongkok percaya jika kedua belah pihak mencapai perjanjian fase-satu, tarif yang relevan harus diturunkan," kata Juru Bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok Gao Feng.

    Komentar itu menegaskan kembali posisi Beijing dalam beberapa minggu terakhir, karena kedua negara mengalami kemunduran mengenai pembahasan tarif yang merupakan bagian dari perjanjian fase-satu. Adapun Gao mencatat kedua delegasi perdagangan tetap berkomunikasi, tetapi mengungkapkan ada beberapa detail tambahan tentang negosiasi tersebut.

    Gao tidak memberikan tanggapan langsung ketika ditanya pandangan Tiongkok tentang tarif tambahan AS, yang ditetapkan mulai berlaku 15 Desember. Gao juga tidak memberikan rincian tentang daftar entitas yang terkena tarif. Terlepas dari itu, ada harapan agar perang dagang yang sedang terjadi bisa segera berhenti demi kepentingan bersama.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id