Menperin Fokus Peningkatan Industri Hulu

    Ilham wibowo - 17 Oktober 2019 14:24 WIB
    Menperin Fokus Peningkatan Industri Hulu
    Menperin Airlangga Hartarto fokus peningkatan industri hulu. Foto: MI/Susanto.
    Tangerang: Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menyebut pertumbuhan industri hulu masih perlu diperkuat dalam meningkatkan daya saing produk turunan. Sektor tersebut jadi evaluasi bagi pertumbuhan industri nasional secara keseluruhan.

    "Tentu salah satu yang diperlukan adalah supply chain industri, terutama terkait dengan tumbuhnya industri-industri hulu," kata Airlangga ditemui saat menghadiri forum diskusi di di Trade Expo Indonesia, ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis, 17 Oktober 2019.

    Seperti contoh, misalnya, sektor industri makanan dan minuman di Tanah Air yang bahan bakunya sebagian besar masih diperoleh dari negara lain. Meski produk hilir dikembalikan dalam bentuk ekspor, kehadiran bahan baku dalam negeri akan lebih meningkatkan efek manfaat yang lebih besar.

    "Industri-industri ini butuh di hulu yang terkait makanan dam minuman hulunya adalah pertanian," papar Airlangga.

    Strategi yang perlu dilakukan setelah penguatan sektor hulu yakni harmonisasi struktur tarif seperti industri tekstil. Sebab, Indonesia berpotensi merajai pasar dunia lantaran telah memiliki rantai pasokan yang lengkap.

    "Karena kita dari hulu sampai hilirnya sudah lengkap value chain-nya, kalau dibanding Vietnam dia kuat di hilir, kita dari hulu sudah kuat, di tengah juga kuat," ujarnya.

    Menperin juga mengatakan perlunya upaya dalam membantu peremajaan mesin tua pabrik di Indonesia. Mesin yang modern akan menghasilkan produk yang berkualitas dengan output yang lebih efisien.

    "Kita harus juga bantu restrukturisasi permesinan, di kita yang survive adalah mereka yang top tier, dan mereka selalu modernisasi permesinan," ungkapnya.

    Airlangga juga menekankan perlunya pengetatan importir yang berlindung di balik regulasi yang bukan semestinya. Dampak berantai bisa terjadi bisa dibiarkan berlarut-larut.

    "Kemarin Menkeu sudah mengambil sebuah tindakan yang kita perlu apresiasi sehingga tentu dengan ekspor naik, industri tengah juga ikut ketarik, kemarin kan itu naik tapi impornya juga tinggi," kata Airlangga.

    Tak cukup itu, revisi dari regulasi terkait dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) juga patut menjadi perhatian. Terkait furnitur misalnya, kayu yang masih dikenakan PPN akan sulit bersaing dengan produk di Asean yang bebas tarif.

    "Sehingga kita mendorong level playing field antara domestik industri, industri dalam negeri, dan barang impor," ungkapnya.

    Langkah tegas menerapkan safeguard produk impor, kata Airlangga, juga jadi bagian penting menjaga industri dalam negeri berkembang. Indonesia tak boleh takut berhadapan dengan negara besar sekalipun.

    "Kemarin ini kan beberapa safeguard kita belum berani mengambil keputusan, tetapi barang kita di luar negeri diberikan safeguard. Stainless steel kena di Amerika, kemudian juga di Tiongkok sehingga kita tentu harus juga berani mengenakan safeguard," pungkasnya.



    (HUS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id