Wawancara Khusus

    Pos Indonesia Menolak Bangkrut

    Annisa ayu artanti - 25 Juli 2019 06:17 WIB
    Pos Indonesia Menolak Bangkrut
    Ilustrasi. (FOTO: dok MI)
    BEBERAPA waktu belakangan marak kembali berita mengenai PT Pos Indonesia (Persero) yang akan bangkrut. Bermula dari teguran anggota DPR fraksi PDI Perjuangan Rieke Diah Pitaloka yang meminta pemerintah memberi perhatian serius terhadap kinerja perusahaan pelat merah berlambang burung merpati ini.

    Pos Indonesia "melawan". Kendati bisnis surat menyurat saat ini anjlok, namun perseroan bangkit dengan melakukan transformasi bisnis di tubuh perusahaan. Direktur Utama Pos Indonesia Gilarsi Wahyu Setijono sempat berbincang singkat dengan jurnalis Medcom.id terkait hal ini. Berikut isi wawancara antara Gilarsi (G) dengan Medcom.id (M).

    M: Apa tanggapan bapak mengenai proses penyehatan Pos Indonesia yang saat ini sedang marak jadi pemberitaan? (Merujuk pada penjelasan dalam keterangan tertulis yang dikeluarkan perseroan)
    G: Ya jadi, Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2019 mengenai liberalisasi industri postal itu dibuat, dilahirkan pada 2009. Itu memberikan mandat karena tadinya bisnis yanng monopoli kemudian jadinya dibuka, diliberalkan pasti punya konteks yang berubah, dan kesiapan internalnya pos itu enggak pernah disiapkan.

    Sehingga muncul lah kesadaran itu, harus disehatkan dulu untuk bisa dilepas bebas, untuk bisa bertarung di pasar yang lebih liberal tadi. Itu di 2009, dan sampai dengan masa mandat itu habis, enggak pernah dilakukan yang namanya penyehatan itu.

    M: Kapan mandat itu habis?
    G: 2009, kan paling lama lima tahun selambat-lambatnya. Jadi kan seharusnya 2014.

    M: Jadi sampai 2014 pemerintah belum kasih?
    G: Iya. Apapun lah wujudnya ya. Enggak harus sifatnya misalnya "Iya Aku enggak bisa kasih duit, tapi Aku bisa kasih kompensasi dalam bentuk ini". Kan bisa saja begitu.

    Contoh ya, pos di dunia itu yang transformasinya paling digunakan sebagai referensi hanya dua negara. Yang pertama adalah di Jerman. Jerman Pos itu di 2000 begitu menyadari bahwa internet bisa betul-betul mengalihkan posisinya pos, maka mereka langsung disuntik dana yang jumlahnya besar oleh pemerintah untuk mengakuisisi DHL. Jadi di 2002, proses akuisisinya dua tahun berjalan.

    Pada 2002, DHL itu sepenuhnya punyanya Deutsche Post. Setelah itu menjadi sehat luar biasa hingga hari ini Deutsche Post itu.

    Terus di 2006, Jepang juga memikirkan hal yang sama. "Waduh posku mati ini, dengan perkembangan mobile, perkembangan internet". Akhirnya mereka berfikir "Ya sudah kompensasinya tidak dalam bentuk uang" kalau yang pos Jepang itu kompensasinya dalam bentuk memberikan lisensi untuk menjadi bank. Menjadi consumer bank.

    Ya akhirnya, dengan mendapatkan lisensi untuk beroperasi menjadi consumer bank itu menjadi consumer bank terbesar di dunia itu, yang namanya bank pos Jepang (Japan Post Co).

    Nah, dalam hal ini bisa saja pemerintah Indonesia tadinya di 2009 itu pemerintah enggak punya uang. "Yuk kan pemerintah punya bisnis nih misalnya katakan kurirnya pemerintah itu otomatis akan dilakukan oleh Pos Indonesia." Selama misalnya 25 tahun yang akan datang. Itu harusnya bisa seperti itu juga.

    Kemudian ada beban-beban PSO, beban kita rupiahnya kalau kita ngomong antara penugasan dan pendapatan yang diperoleh dari penugasan itu, itu jaraknya besar sekali.

    M: Berapa Pak?
    G: Hmmm...sampai Rp600 miliar tahun kemarin (2018). Jadi kayaknya kita jadi menyubsidi pemerintah kan. Bolak-balik jadinya.

    Sementara kalau kita bicara yang harus disehatkan itu pos. Itu memiliki infrastruktur-infrastruktur untuk kurir surat. Sementara surat sudah mulai ending. Artinya, infrastruktur musti dimodernkan menjadi infrastruktur barang, untuk e-commerce.

    Jadi ngomong infrastruktur saja, itu pun butuh effort untuk menyehatkannya. Artinya mentransformasi infrastruktur yang tidak relevan menjadi infrastruktur yang lebih relevan.

    Untuk itu saja, Pos Australia misalnya, dia didukung betul dengan pemerintahnya. Dikasih duit, "Yuk..kita alokasikan USD200 miliar di-spend selama 3-4 tahun untuk membuat hub-hub logistik, hub-hub parsel, bukan lagi surat".

    Jadi suratnya oke lah dipertahankan tapi mengecil. Jadi mereka dikasih duit untuk bertransformasi, memperbaiki infrastruktur, memperbaiki relevansi outlet-outlet posnya untuk e-commerce.

    Malaysia juga sama. Malah Malaysia lebih besar lagi. Pos Malaysia kan didukung pemerintahnya di 2007. Makannya itu long overchoose sebenarnya.

    M: Itu kan (mandat) di 2009 sampai 2014. Enggak ada upaya penyehatan dari pemerintah. Nah, bagaimana 2015 sampai sekarang? Sudah ada upaya atau masih sama?
    G: Masih sama. Sampai hari ini enggak ada. Belum ada lah effort pemerintah untuk mendudukkan ini dalam sebuah konteks penyehatan ini belum ada.

    M: Pak Benny bilang (dalam rilis) ada upaya transformasi. Seperti apa rencana transformasinya?
    G: Akhirnya bertransformasinya tentu dengan keterbatasan resources yang kita miliki. Nah, karena pemerintah tidak mencoba. Sebenarnya scope PT Pos sudah disebutkan dalam mandat Undang-Undang tadi.

    Jadi yang banyak kita melakukan transformasi justru malah di anak-anak perusahaan, anak-anak PT Pos itu yang betul-betul domainnya relatif domain yang bisa kita sentuh dengan baik. Seperti, Pos Logistik misalnya. Pos Logistik ditransformasi tidak hanya logistik tapi juga pos logistik dan trading.

    Jadi trading and logistic, maka kesempatan dia untuk lebih relevan, kesempatan dia untuk lebih kompetitif itu menjadi lebih sangat tinggi. Kayak, pertumbuhan bisnis dan kesehatan cash juga lebih baik.

    Sementara Pos-nya sendiri itu, karena memang limitasi resources yang bisa dilakukan paling seperti upgrade di teknologi, bagaimana kita bisa relevan. Tapi kalau bisnis model misalnya, kalau bicara kurir, kurir private itu enggak ada yang menggunakan karyawan tetap kan.

    Semua karyawannya model Grab, model Go-Jek begitu. "Kalau kamu ngangkut, ya digaji. Kalau ngangkut ya kamu tak kasih kompensasi". Nah kalau PT Pos kan enggak bisa kayak gitu. Karena selama ini sudah menjadi karyawan tetap. Karyawan tetap dikeluarkan, ya ramainya akan luar biasa.

    Jadi transformasinya, sebagian yang sudah mulai itu katakanlah bisnis modelnya yang tadinya PT Pos enggak kenal istilah back up jadi memperkenalkan istilah back up. Yang tadinya pos tidak mengerti trade and trace kita mempunyai fasilitas trade and trace yang baik. Yang tadinya pengadaan itu tidak berbekal mobile untuk bisa melakukan trade and trace atau direct update, sekarang sudah bisa melakukan direct update.

    Tapi, bermain di situ itu kan susahnya karena orang lain sudah lebih dulu dari kita. Nah transformasi, jadi it's nice to had that. Tapi kita tidak mengubah rule off the game-nya kan. Dulu kan kita menjadi yang nge-set aturan di dalam yang dimainkan. Jadi sekarang ya agak terlambat.

    Oleh karena itu, fokus kita lebih banyak transformasi di anak-anak perusahaan. Dan itu Alhamdulillah sudah ada hasilnya, tapi walaupun belum seperti Telkomsel memikul Telkom.

    M: Dengan posisi seperti ini, harus bertransformasi, harus mengejar ketertinggalan dari yang lain. Posisi keuangan masih aman?
    G: Gini, kalau PT Pos ini bercampur dengan layanan Pos Universal yang ada PSO-nya itu sama yang komersial. Kalau yang komersial itu kami masih ada untungnya lah. Masih ada walaupun tidak optimal.

    Tetapi yang bersubsidi ini yang menjadi beban kita. Yang jumlah kantornya ada 2.446 kantor itu yang kita sebut sebagai kantor PSO. Yang ini justru menjadi ironis, mejadi beban buat kita.

    M: Tapi masih laba ya pak?
    G: Operasional, operasional enggak pernah untung.

    M: Tahun lalu 2018?
    G: Konsolidasi untung, tapi secara operasional, saya inginnya ya harus dilevel, harus sudah profit. Inginnya begitu. Paling enggak, positif.

    M: Laba 2018 berapa Pak konsolidasi?
    G: Enggak tahu ya berapa. 140 atau berapa. Profitnya kecil sekali lah untuk ukuran operasional seperti itu.

    M: Tapi target akhir tahun ini (2019) konsolidasi?
    G: Doakan saja. Hahahaha. Ya semoga masih laba.

    M: Tapi optimistis laba ya pak konsolidasi?
    G: Mudah-mudahan.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id