Harga Portofolio Saham Jiwasraya dan ASABRI Kemungkinan Direkayasa

    Annisa ayu artanti - 15 Januari 2020 18:38 WIB
    Harga Portofolio Saham Jiwasraya dan ASABRI Kemungkinan Direkayasa
    Saham-saham tersebut dinilai terbentuk atas perdagangan semu.
    Jakarta: Kepala Riset Koneksi Kapital Indonesia Marolop Alfred Nainggolan mengatakan harga saham pada portofolio PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau ASABRI diduga direkayasa.

    Ia menjelaskan ada beberapa kejanggalan dari kinerja portofolio saham-saham dua perusahaan tersebut. Saham-saham tersebut dinilai terbentuk atas perdagangan semu.

    "Ada perusahaan yang masuk dalam daftar tersebut itu saya kategorikan pada perdagangan semu. Harga dan nilai transaksi terbentuk semu," kata Alfred kepada Medcom.id, Rabu, 15 Januari 2020.

    Alfred menuturkan, setelah terkuaknya kasus Jiwasraya dan ASABRI saham-saham perusahaan yang menjadi tempat investasi itu tiba-tiba anjlok. Padahal, tidak ada faktor fundamental yang menjadi sentimen.

    "Begitu kasus ini pecah ternyata saham-saham itu turun cukup drastis. Sementara kita lihat saham kompetitornya tidak mengalami hal yang sama," ucapnya.

    Penurunan harga saham tersebut dinilai tidak normal karena tidak bisa dijelaskan oleh faktor fundamental. Alfred pun menyimpulkan sebagian besar harga saham tersebut terbentuk dari rekayasa mekanisme perdagangan.

    "Artinya penurunan yang drastis itu tidak bisa dijelaskan oleh faktor fundamentalnya atau faktor eksternal atau internal. Berarti pure dari mekanisme perdagangan," jelas dia.

    Menurutnya, harga saham yang terbentuk oleh mekanisme perdagangan penuh dengan intervensi. Berdasarkan data yang dihimpun Medcom.id, beberapa harga saham yang menjadi portofolio dua perusahaan asuransi pelat merah tersebut tinggi pada awal IPO, sementara pada saat perdagangan normal harganya bergerak liar dan saat ini harganya anjlok atau menjadi saham gocap.

    Tiga diantaranya adalah saham PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP) harga IPO Rp450 per saham, PT SMR Utama Tbk (SMRU) harga IPO Rp600 per saham, dan PT Hanson Internasional Tbk (MYRX) harga IPO mencapai Rp9.900 per saham.

    "Saham yang dibentuk hanya oleh mekanisme perdagangan maka itu bisa dikatakan penuh dengan intervensi. Jadi dari situ arahnya rekayasa atau semu," ujarnya.

    Selain itu, lanjut Alfred, pergerakan antar saham juga direkayasa. Contohnya portofolio saham milik ASABRI yakni saham PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL). Pergerakan harga saham kedua emiten tersebut hampir sama dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

    "Ya enggak bisa dipungkiri ya karena kasusnya sama. Artinya, berarti faktor-faktornya dia-dia juga yang ada di lingkungan itu," tukas dia.

     



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id