• DONASI PALU/DONGGALA :
    Tanggal 23 NOV 2018 - RP 51.179.914.135

  • Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (Mandiri - 117.0000.99.77.00) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Supaya Bisa Buka Usaha Sepulang ke Indonesia

10 Juli 2018 11:38 wib
Pekerja migran asal Indonesia mengikuti kursus di Taiwan. (FOTO:
Pekerja migran asal Indonesia mengikuti kursus di Taiwan. (FOTO: dok Metro TV)

"KALAU saya balik ke Indonesia, saya mau buka usaha di Indramayu. Saya, kan, Enggak selamanya kerja di sini," kata Uni Tarsuni, pekerja migran di Taiwan, Minggu, 8 Juli 2018. Hari itu Uni bersama dengan lebih dari 20 pekerja migran asal Indonesia mengikuti kursus sehari membuat minuman bergelembung atau bubble drink yang sedang populer di Taiwan, juga Indonesia. Umi berasal dari Indramayu, Jawa Barat, dan sudah bekerja hampir tiga tahun di Taipei, Taiwan, sebagai perawat orang jompo.

Herliza, rekan sekursus Uni, baru saja menyelesaikan satu jenis bubble drink. Dia dengan bangga memperlihatkan minuman itu. "Saya mau buka usaha bubble drink kalau pulang ke Indonesia," kata perempuan asal Palembang, Sumatera Selatan, itu. Kursus atau pelatihan itu berlangsung di ruang praktik satu private vocational high school atau sekolah menengah kejuruan swasta di Taipei, Taiwan. Karena Minggu, sejumlah ruang di sekolah tersebut bisa dipakai untuk kursus. Di ruang lain di SMK tersebut, Sri Purwati dan Mundirin sedang berlatih menggunting rambut. "Saya mau buka salon di Pacitan," kata Sri. "Saya kepengin buka barber shop," timpal Mundirin.

Sri yang berasal dari Pacitan sudah hampir enam tahun bekerja sebagai perawat orang jompo. Ia hari itu bahkan membawa serta majikan laki-lakinya yang berkursi roda ke ruang kelas karena di rumah majikannya semua penghuni sedang ke luar. Sementara itu, Mundirin yang berasal dari Mojokerto, Jawa Timur, itu bekerja di pabrik. Saat ini tercatat sekitar 270 ribu pekerja migran asal Indonesia yang bekerja di Taiwan, seperti Sri dan Mundirin.

Di kelas lain lagi, belasan pekerja Indonesia sedang mengikuti kursus bahasa Mandarin. Mereka sebetulnya sudah bisa berbahasa Mandarin, tetapi masih sering keliru dalam pengucapan, apalagi penulisan. Kursus itu sebetulnya membuat mereka lebih mahir berbahasa Mandarin.

Global Workers' Organization (GWO) ialah lembaga swadaya masyarakat yang mengorganisasi kursus atau pelatihan tersebut. Kegiatan ini mereka organisasikan sejak tahun lalu. Tahun lalu WGO menyelenggarakan antara kain kursus e-commerce dan membuat kue. Kursus itu gratis. Namun, untuk beberapa jenis kursus, seperti membuat bubble drink atau potong rambut, peserta mesti menyediakan bahan dan perlengkapan. Itu dilakukan karena anggaran GWO terbatas. Organisasi ini mendapat anggaran dari negara donor dan sedikit bantuan pemerintah Indonesia. Kantor Dagang Indonesia di Taiwan juga mendukung program ini.

Tujuan program itu ialah meningkatkan keterampilan para pekerja migran. Mereka tidak harus membuka usaha sesuai dengan kursus yang mereka ikuti. Yang mengikuti kursus bahasa Mandarin, misalnya, mereka bisa melanjutkan bekerja di Taiwan atau pulang ke Indonesia untuk bekerja di perusahaan Taiwan. "Tujuan atau filosofi program ini mengubah cara berpikir mereka bahwa mereka tak selamanya bekerja di Taiwan dan harus mempersiapkan diri sepulangnya ke Indonesia, termasuk untuk membuka usaha," tutur Karen Hsu, aktivis WGO. (Media Indonesia)

Usman Kansong
Laporan dari Taipei, Taiwan


 


(AHL)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.