Erick Thohir Cegah BUMN Rekayasa Laporan Keuangan

    Desi Angriani - 09 Januari 2020 22:19 WIB
    Erick Thohir Cegah BUMN Rekayasa Laporan Keuangan
    Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Istana Kepresidenan/Muchlis Jr.
    Jakarta: Menteri BUMN Erick Thohir berjanji akan mencegah rekayasa laporan keuangan perusahaan pelat merah. Hal ini menyusul kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero) akibat memoles laporan keuangannya.

    "Deputi Keuangan di BUMN sendiri ke depan akan kita push bahwa tidak ada lagi di BUMN-BUMN itu yang namanya laporan keuangan itu sulap-sulapan," ujarnya ditemui di Ruang Nusantara, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis, 9 Januari 2020.

    Erick memastikan Deputi Keuangan Kementerian BUMN bekerja optimal agar tak ada lagi perusahaan pelat merah yang melakukan revaluasi aset secara mendadak demi menerbitkan surat utang. Hal tersebut dinilai sangat berbahaya bagi kelangsungan perusahaan BUMN Tanah Air.

    "Saya tidak mau misalnya revaluasi aset di BUMN langsung perusahaannya jadi untung, padahal enggak ada cash-nya. Nah ini kan bahaya. Nah itu kenapa kita punya Deputi Keuangan yang akan menertibkan hal-hal seperti ini, tipu menipu enggak ada lagi," terang Erick.

    Akibat manipulasi data keuangan itu, bursa saham sempat tergoncang. Ia khawatir tak ada investor yang berminat dalam holding BUMN asuransi sebagai salah satu skenario penyelamatan Jiwasraya.

    "Kemarin bursa melemah karena orang engga ada yang percaya, akhirnya investasi lagi di tempat lain," pungkasnya.

    Jiwasraya melakukan rekayasa laporan keuangan sejak 2006. Asuransi pelat merah itu banyak menempatkan dana investasi di saham-saham gorengan. Sebanyak 95 persen dana investasi Jiwasraya ditempatkan di saham 'sampah'.

    Berdasarkan dugaan awal, total dana yang diinvestasikan di saham gorengan tersebut mencapai Rp5,7 triliun atau 22,4 persen dari total investasi Jiwasraya.

    Tidak hanya itu, 98 persen dari dana investasi di reksa dana atau senilai Rp14,9 triliun dititipkan pengelolaannya kepada perusahaan-perusahaan manajer investasi dengan kinerja buruk.

    Hingga Agustus 2019, Jiwasraya menanggung potensi kerugian negara sebesar Rp13,7 triliun. Jiwasraya membutuhkan dana Rp32,89 triliun agar bisa mencapai rasio Risk Based Capital (RBC) minimal 120 persen.

    Demi mengusut kasus Jiwasraya, Kejagung telah mencekal 10 orang. Mereka adalah, HR, DA, HP, NZ, DW, GL, ER, HD, BT, AS.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id