Usai Direstui OJK, Muamalat Bakal Ubah Model Bisnis

    Desi Angriani - 05 Februari 2020 20:32 WIB
    Usai Direstui OJK, Muamalat Bakal Ubah Model Bisnis
    Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K Permana - - Foto: Medcom.id/ Desi Angriani
    Jakarta: PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk berencana mengubah model bisnis atau melakukan ekspansi usaha ke segmen ritel. Hal ini menyusul restu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas suntikan modal dari Konsorsium Al Falah Investments Pte Limited.

    Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K Permana mengatakan izin dari OJK mempermudah langkah Muamalat dalam melakukan ekspansi usaha. Selama ini, bank syariah itu hanya berfokus pada pendanaan di segmen usaha korporasi.

    "Model bisnis kita akan berubah, selama ini kita lebih ke korporasi sampai 65 persen," katanya ditemui di Muamalat Tower, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 5 Februari 2020.

    Achmad mengungkapkan Muamalat menerbitkan 32 miliar lembar saham dengan perkiraan modal maksimum yang akan diraih mencapai Rp3,2 triliun. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa itu, perseroan juga menyetujui menerbitkan sukuk dengan nilai Rp6 triliun.


    "Apakah mau di exercise atau dikombinasi itu bisa saja diselesaikan," tambah dia.

    Komisaris Independen Bank Muamalat Iggi H. Achsien menambahkan terdapat tiga investor yang bakal memperkuat likuditas Muamalat selain Al Falah. Investor tersebut berasal dari dalam dan luar perseroan.

    "Investornya 2-3, eksternal. Artinya dalam dan luar," katanya.

    Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso sebelumnya mengatakan persetujuan aksi korporasi saat ini tinggal menunggu proses administrasi.


    Konsorsium Al Falah yang dipimpin Ilham Habibie akan segera melengkapi dokumen untuk menjadi pemegang saham pengendali Bank Muamalat. Wimboh berharap eksekusinya bisa dilakukan secepat mungkin.

    "Ini kan tinggal eksekusi, eksekusi itu proses-proses administrasi," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa, 4 Februari 2020.

    Bank Muamalat menghadapi masalah permodalan sejak 2015. Puncaknya pada 2017, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) turun menjadi 11,58 persen.
     
    Kinerja Bank Muamalat tergerus oleh lonjakan pembiayaan bermasalah atau non-performing finance (NPF). NPF bank syariat itu bahkan sempat di atas lima persen, lebih tinggi daripada batas maksimal ketentuan regulator.
     
    Nantinya konsorsium Al Falah akan memegang 50,3 persen saham Bank Muamalat. Dengan demikian saham yang dimiliki oleh Islamic Development Bank akan turun menjadi 11,4 persen dari 32,7 persen dan Boubyan Bank dari 22 persen dari 7,7 persen.




    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id