Strategi Peningkatan SDM Industri Dipertajam

    Ilham wibowo - 13 November 2019 14:16 WIB
    Strategi Peningkatan SDM Industri Dipertajam
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id.
    Jakarta: Peningkatan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) bidang industri terus didorong untuk menjawab tantangan era revolusi industri 4.0. Kebutuhkan SDM yang  berkompeten sangat diperlukan dalam menyambut momentum adanya bonus demografi.

    "Harus segera mengubah pola pendidikan vokasi agar sesuai dengan nature-nya. Pendidikan vokasi yang diperlukan adalah kemampuan atau keterampilan dalam proses, produksi, bekerja. Sehingga profesionalitas SDM industri bisa muncul," kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Eko S.A. Cahyanto, melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 13 November 2019.

    Hingga saat ini Kemenperin memiliki sekolah vokasi di bidang industri yang terdiri dari 10 politeknik, dua Akademi Komunitas (Akom), dan sembilan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah-sekolah tersebut menjadi role model bagi sekolah kejuruan di bidang industri, sehingga bisa menyesuaikan dengan kebutuhan industri serta menghasilkan SDM industri yang siap kerja dan kompeten.

    "Jumlah tersebut sebenarnya porsinya sangat kecil dibanding jumlah politeknik di seluruh Indonesia, yang jumlahnya ratusan sedangkan SMK jumlahnya mencapai 14 ribu. Karena itu, Kemenperin terus mengupayakan program pengembangan pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dengan industri. Kami sudah fasilitasi kerja sama 2.612 SMK dengan 855 industri dalam 4.997 untuk revitalisasi sekolah-sekolah di luar Kemenperin," jelasnya.

    Eko menuturkan salah satu sekolah vokasi industri milik Kemenperin, yakni Politeknik Negeri Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) Jakarta, pada tahun ini meluluskan 425 wisudawan siap kerja serta siap menyongsong era revolusi industri 4.0. "APP Jakarta memiliki kompetensi di bidang logistik, antara lain handling delivery produk barang dan jasa, baik di dalam proses produksi maupun distribusi pemasaran," ungkapnya.

    Keberadaan Politeknik Negeri APP Jakarta ini diharapkan mampu menjawab tantangan kebutuhan logistik bagi sektor industri. Karenanya, Kemenperin terus berupaya untuk menyempurnakan kurikulum terkait pendidikan kelogistikan di politeknik tersebut.

    Saat ini, BPSDMI Kemenperin sedang memfinalisasi kurikulum berbasis industri 4.0 yang juga akan diterapkan di politeknik lainnya. "Harapannya tahun depan kurikulum tersebut juga bisa diterapkan di seluruh politeknik. Harus ada penyesuaian,misalnya pelajaran tentang coding dan programming. Kami sedang mengkaji lebih dalam untuk finalisasi kurikulum itu," sebutnya.

    Eko menambahkan selain melakukan penyempurnaan kurikulum vokasi, Kemenperin juga terus mendorong para lulusan Politeknik, Akom, maupum SMK untuk memiliki sertifikasi internasional, sehingga SDM industri Indonesia memiliki daya saing di kancah global. Hingga saat ini, sudah ada beberapa sekolah di bawah naungan Kemenperin yang telah mengirimkan siswanya untuk praktikum di beberapa negara di seluruh dunia.

    "Misalnya di SMK SMAK Bogor, praktik kerjanya di Belanda, ini juga membuka peluang bekerja di sana. SMK SMAK Padang di Malaysia, Thailand, China, Australia. Beberapa dari mereka pernah bekerja di Australia. Ada cukup banyak lulusan sekolah vokasi Kemenperin yang bekerja di luar negeri, terutama di industri petrokimia karena beberapa sekolah memang berbasis kimia," paparnya.

    Selain itu, Eko menyebut, guna menciptakan SDM industri yang berkompeten, Kemenperin juga sedang membangun Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI 4.0) dan saat ini masih dalam proses pembangunan. Pusat inovasi tersebut ditargetkan bisa selesai 2021.

    "PIDI 4.0 memiliki lima pilar, pertama sebagai showcase untuk menunjukkan proses produksi pada skema industri 4.0 yang seperti apa. Kedua menjadi capability center untuk meningkatkan kapasitas, ketiga menjadi ekosistem, kemudian menjadi delivery center, dan terakhir untuk mentransformasi ke industri 4.0," imbuhnya.

    Selanjutnya, Kemenperin juga akan membangun membangun satelit-satelit nya untuk PIDI 4.0 yang berada di beberapa kota yang struktur industrinya sudah kuat, yakni ada di Bandung, Yogyakarta, Makassar, dan Kendal.

    "Satelit itu yang skala kecilnya, jadi misal untuk sektor otomotif, itu ada di Bandung, kemudian tekstil juga ada di Bandung, alas kaki ada di Yogyakarta, kemudian manufaktur ada di Makassar," pungkasnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id